Nasional

NASA: Ini Foto Terbaru Gunung Merapi

NASA terus pantau Merapi dari ruang angkasa. Foto terbaru diambil 15 November 2010.

Rabu, 17 November 2010, 10:24 WIB
Elin Yunita Kristanti
Foto aliran piroklastik Merapi 15 November 2010 (NASA)

VIVAnews -- Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) terus memantau perkembangan letusan Gunung Merapi.

Foto terbaru NASA yang diambil melalui fasilitas Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer (ASTER) pada Satelit Terra diambil Senin 15 November 2010.

Foto didominasi warna merah tua ini menunjukkan bahaya aliran priroklastik Merapi. Longsoran berupa gas panas, debu, dan batuan membara meluncur dengan cepat. Bahkan mencapai kecepatan lebih dari 150 kilometer per jam.

Aliran piroklastik ini biasanya mengikuti medan tertentu, namun bisa menyebar ke area yang lebih luas.

Gambar dari instrumen ASTER pada Satelit Terra NASA menunjukkan aliran piroklastik yang besar di sepanjang Sungau Gendol, di Selatan Merapi.

Deposit lahar mengalir ke Sungai Gendol. Sementara di utara tempat latihan golf Merapi, fitur merah menggambarkan daerah terdampak aliran piroklastik yang menyebabkan kehancuran nyaris total.

Sementara, wilayah abu-abu gelap, sebagian besar pohon tumbang dan tanah dilapisi abu dan batu.

Foto aliran piroklastik Merapi 15 November 2010

 

Foto lain yang diambil NASA bertanggal 10 November 2010. Foto ini menggambarkan abu tebal yang ke luar dari arah Merapi di hari itu. Foto ini diambil melalui instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) di Satelit Terra.

Foto abu tebal yang ke luar dari Merapi 10 November 2010

 

Pada 11 November 2010, NASA juga mengeluarkan peta konsentrasi sulfur (belerang) dioksida pada 4-8 November 2010. Ini adalah gas berwarna yang bisa membahayakan kesehatan manusia, sekaligus mendinginkan iklim di Bumi, juga memicu hujan asam.

Peta konsentrasi sulfur Merapi 11 November 2010

Peta ini diambil oleh instrumen Ozone Monitoring Instrument (OMI) di Satelit Aura NASA.

Pada tanggal 9 November 2010, Volcanic Ash Advisory Centre di Darwin, Australia, melaporkan ketinggian awan belerang dioksida di Samudera Hindia antara 12.000 dan 15.000 meter.

Jika sebuah gunung berapi di dekat khatulistiwa menyuntikkan cukup banyak jumlah belerang dioksida ke stratosfer, reaksi kimia yang dihasilkan dapat membuat aerosol reflektif yang masih melekat selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun -- bisa merefleksikan sinar matahari dan menurunkan iklim.

(NASA)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
heru gordon
24/11/2010
bukan dajal tapi bapanya dajal itumah
Balas   • Laporkan
Shyfa
20/11/2010
Moga dg tknologi yg smakin cggih NASA bs mndteksi aktvtaz merapi dg cpt.mnurunkan jmlah korban yg ada.amin
Balas   • Laporkan
D.N Aidit
18/11/2010
Cangkemu durung dicelupne neng lahar merapi yo ?? opo celupne neng septi tank wae piye ??
Balas   • Laporkan
nur isti khomah
18/11/2010
owh...gitu to???? baru tahu efeknya..... tapi kita kerepotan terus kalo g mandeg2 ki.........
Balas   • Laporkan
cak
18/11/2010
"fitur merah menggambarkan daerah terdampak aliran piroklastik yang menyebabkan kehancuran nyaris total" betulkah? kelihatannya semakin pojok/jauh dari puncak semakin kuat merahnya. penulisan artikel tidak akurat nih...
Balas   • Laporkan
mazBoncel = Yahudi
Balas   • Laporkan
Sanjaya
18/11/2010
Semoga teknologi citra satelit inidapat digunakan olerh pakar vulkanologi indonesia utk mengantisipasi musibah letusan gn berapi Saran utk Viva News, sebaiknya komentar yg tdk etis dan bersifatr sara tidak usah dimuat. Trims
Balas   • Laporkan
hidayat2010
17/11/2010
dahsyat..!
Balas   • Laporkan
orangbiasa
17/11/2010
ternyata memang betul ya ada manusia nyeleneh ......mazBoncel mendingan tidak usah komentar......... kita sedang dirundung duka koq...Alhamdullillah????????
Balas   • Laporkan
koko ahong
17/11/2010
im sorry to hear that
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ