Nasional

Sultan: Kalau Ikhlas, Jangan Pasang Bendera

Bendera-bendera berkibar di pengungsian, entah dari parpol, instansi, maupun organisasi.

Senin, 1 November 2010, 13:41 WIB
Elin Yunita Kristanti
Sri Sultan Hamengkubuwono X (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews -- Merapi masih berstatus Awas. Warga yang tinggal di lereng Merapi terpaksa harus tinggal di barak-barak pengungsian untuk menghindari malapetaka.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X bersyukur banyak pihak yang membantu dan peduli pada nasib para pengungsi.

Namun ada satu hal yang mengganjal di hati Raja Jogja ini: soal bendera.

Ia mengritik bendera-bendera yang berkibar di pengungsian, entah dari parpol, instansi, maupun organisasi.

"Kalau membantu yang ikhlas, tapi jangan memasang bendera," kata Sultan di posko utama penanggulangan bencana Merapi di Pakem, Senin 1 November 2010.

Ditambahkan Sultan, jangan sampai banyak bendera yang berkibaran. "Kalau bisa hanya mengibarkan bendera merah-putih. Saya harap kalau bukan bendera merah putih, jangan dipasang."

"Silakan setinggi-tingginya memasang bendera merah putih," tambah dia.

Pasca letusan tadi pagi, Sultan langsung merapat ke posko untuk melakukan koordinasi.

Kepada warga lereng Merapi di pengungsian, Sultan meminta mereka agar tak panik. 

"Pengungsian yang ada di Sleman 10 kilometer dari puncak  Merapi dan dijamin aman," kata Sultan.

Ditambahkan dia, warga jangan sampai terpengaruh informasi  dari pihak luar selain Satkorlak. Sebab, ada beberapa orang yang menggunakan kesempatan di tengah kepanikan warga.

Sultan juga mengingatkan, sebelum status awas dicabut, warga dilarang meninggalkan pengungsian.

"Selama tinggal di pengungsian biaya akan ditanggung pemerintah," tambah dia.

Untuk membiayai para pengungsi, dijelaskan Sultan, Pemda Sleman berhak mencoret APBD yang belum dialokasikan untuk kondisi darurat.

"Entah itu Rp10 miliar atau Rp100 miliar terserah. Hanya harus sepengetahuan BPKP untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan," tutur Sultan.

Ketidakpastian kapan mereka kembali ke rumah membayangi para pengungsi. Apalagi, sudah empat kali Merapi meletus.

Letusan pertama terjadi pada 26 Oktober lalu, Merapi memuntahkan awan panas dan abu. Letusan Merapi merenggut 39 orang tewas termasuk juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, dan wartawan VIVAnews.com, Yuniawan Wahyu Nugroho. Yuniawan tewas saat mencoba menjemput sang penjaga Merapi.

Sementara, letusan kedua terjadi pada Sabtu 30 Oktober 2010 Merapi meletus. Letusan itu terbilang dahsyat -- tinggi asap sampai 3,5 kilometer dan menyebabkan hujan abu sampai radius 20 kilometer.

Letusan ketiga terjadi pada Minggu 31 Oktober. Dan yang keempat terjadi hari ini.

(Laporan: Fajar Sodiq | Yogyakarta, umi)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Daulat David sihaloho
09/11/2010
Betul Pak... seharusnya para parpol ataupun organisasi lainnya, tidak berupaya mengambil keuntungan dari bantuan yang diberikannya... agar lebih menjadi berkah/ barokah...
Balas   • Laporkan
Me
08/11/2010
Mantap nian.. orangnya kalau ga tidur di rapat, jalan jalan keluar negeri, kita yang bayarin. Tapi kalau kirim bantuan bendera mesti dipasang, biarpun orangnya lagi tidur tiduran makan duit rakyat
Balas   • Laporkan
julia
08/11/2010
Identitas saja kok diributkan.. Orang nyumbang dengan identitas itu kan tidak membatalkan keikhlasan.. sultan yang aneh.. pantesan mbah marijan tidak suka sama sultan yang skrg ini..
Balas   • Laporkan
yulias
02/11/2010
inilah mental bangsa Indonesia sekarang.....membantu tapi punya maksud..cari popularitas., dan terkenal. Masya Alloh.Ikhlas tapi terbungkus kepentingan diri sendiri. kelompok dan Golongan, suku Ras dan agama.apa lagi yg mau jadi presiden/Dewan.cabut saja
Balas   • Laporkan
ali ay
02/11/2010
saat ini mereka bertanya akan peran parpol biarkan mereka menunjukkan jadi diri mereka ditengah masyarakat agar rakyat tidak salah memilih wakilnya dan harapan kami selaku warga jangan hanya membantu saat ada bencana tp parpol agar membantu orang susah.
Balas   • Laporkan
andy muhammad
02/11/2010
Sudah menjadi RASIA UMUM semua orang2 PARTAI itu kalau berbuat sesuatu kelihatannya baik tapi di balik itu mereka mengharapkan sesuatu imbalan,PAMRIH lah hukumnya perbuatan mereka itu,mereka sebenarnya tdk pencium,perbuatan mereka itu sangat BERBAU BUSUK.
Balas   • Laporkan
bagus burham
02/11/2010
LERES meniko sinuwun kanjeng sultan....suruh angkat kaki saja mereka mereka yang punya niat "ada udang di balik batu"...
Balas   • Laporkan
Guest
02/11/2010
Bendera Sebagai Identitas kenapa di ributkan orang memberi bantuan ikhlas tidak ikhlas hanya orang yang bersangkutan dan tuhanlah yang tau, mbok njenengan sering turun kelapangan lihat rakyatnya nasibnya kayak apa kalau nga ada kelompok2 yang menolongnya
Balas   • Laporkan
edwin tedjo
02/11/2010
Kalo ikhlas bantu warganya ya gak usah sibuk urusin yang pasang bendera..., fokus saja bantu..
Balas   • Laporkan
ervan tanjung
02/11/2010
terima kasih sultan, baginda telah mengingatkan kaum yang riak dan tamak akan pujian...
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ