Nasional

Ibas: Perang dengan Malaysia Pemborosan

Pendekatan dengan soft diplomasi lebih tepat sesuai dengan kondisi yang ada saat ini.

Minggu, 5 September 2010, 22:48 WIB
Amril Amarullah
Edhie Baskoro Yudhoyono (VIVAnews/ Uday Suhada)

VIVAnews - Gencarnya kritik terhadap pemerintah berkaitan dengan sikap politik untuk menolak berperang dengan Malaysia dinilai tidak mengedepankan situasi dan permasalahan. 

Oleh sebab itu, sikap yang diambil oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinilai sudah tepat. Karena untuk saat ini, pendekatan dengan soft diplomacy lebih tepat sesuai dengan kondisi dan konteks yang ada saat ini.

Hal tersebut diungkapkan, Sekjen Partai Demokrat, Edhie Baskoro, putra bungsu dari Presiden SBY itu menilai, jika dilakukan perang dengan Malaysia adalah suatu pemborosan.

"Menurut saya desakan untuk mengambil sikap politik perang adalah tidak mendasar terkadang justru malah membuat kita terjebak dan tidak mengedepankan situasi dan permasalahannya," ujarnya di Solo, Minggu 5 September 2010.

Ibas menilai, untuk mengedepankan perang juga harus mempertimbangkan berbagai hal, seperti dari sisi ekonomi, anggaran dan alutsista (alat utama sistem persenjataan). "Akan lebih baik bagi kita untuk mengedepankan soft diplomacy," tegasnya.

Kebijakan soft diplomacy ini adalah yang terbaik untuk kedua belah pihak. "Itu adalah jalan yang terbaik. Di samping kita juga harus tegas sebagai salah satu perwujudan hak protes kita," katanya.

Soft diplomacy, juga sangat mewakili keterbatasan kondisi alutsista dan minimnya jumlah anggaran pertahanan Indonesia. Karena jika berdasarkan standar baku seharusnya anggaran pertahanan negara mencapai nominal lebih dari Rp 100 triliun rupiah per tahunnya.

"Dengan anggaran sejumlah itu, baru kita bisa Indonesia show force. Oleh sebab itu, kita akan bahas lebih lanjut masalah tersebut, terutama untuk menaikkan angaran alutsista dan pertahanan negara," janji Edhie.

Laporan Fajar Sodiq | Solo

• VIVAnews
Rating