VIVAnews - Pemerintah sudah menyiapkan langkah-langkah antisipatif dalam menghadapi gempa bumi yang mengancam beberapa wilayah di Pulau Sumatera dan Jawa. Sejumlah langkah itu antara lain penyediaan alat komunikasi di ratusan desa, pemasangan kamera CCTV, dan pembangunan shelter di wilayah pesisir.
Demikian Staf Ahli Presiden Bidang Bencana, Andi Arief. Dia mengungkapkan ada beberapa daerah yang rawan gempa, seperi Padang, Bengkulu, Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta
Pemerintah pusat, menurut Andi, telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah yang rawan bencana, antara lain dengan mengerahkan tim ke Padang dan Bengkulu untuk mendukung pembangunan tempat-tempat penampungan pengungsi (shelter). ”Kami sudah melihat pembangunan shelter-shelter di beberapa daerah,” kata Andi saat dihubungi VIVAnews, Sabtu 4 September 2010.
Shelter-shelter tersebut, kata Andi, ditujukan untuk mengantisipasi gelombang tsunami, yang biasanya muncul setelah gempa di dasar laut dan sekitarnya. “Selain itu ada 372 dusun yang sudah dipasang alat komunikasi handy talkie. Di daerah pantai sudah dipasang CCTV kalau-kalau terjadi tsunami,” papar Andi.
Andi menambahkan, apabila usaha preventif ini merupakan tantangan besar. “kalau masih terjadi dan makan korban lebih besar dari Aceh, kita gagal,” ucap dia. Usaha tersebut merupakan, langkah antisipasi untuk menyelamatkan korban.
Kota Padang diceritakan oleh Andi, sudah agak siap untuk menghadapi bencana.”Meski harus dilakukan penyempurnaan,” kata dia. Langkah antisipasi tersebut, didasari penelitian para ahli geologi.
Selain itu pertemuan pakar gempa pada 2008 lalu mewanti-wanti akan potensi gempa di beberapa daerah seperti di Pariaman, Mentawai, Bengkulu, Selat Sunda sampai ke Pelabuhan Ratu.
Namun, Andi mengingatkan bahwa gempa bumi merupakan bencana yang sulit diperkirakan. "Itu kan tidak bisa diprediksi kapan datangnya,” kata Andi.