VIVAnews - Ratusan orang yang tergabung dalam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Sulawesi Selatan menggelar aksi unjuk rasa, Sabtu, 4 September 2010. Mereka mengecam sekte kecil salah satu agama di Florida, Amerika Serikat (AS), terkait rencana pembakaran kitab suci Alquran pada 11 September mendatang.
Para pengunjuk rasa ini mengawali aksinya di Monumen Mandala, Jalan Jenderal Sudirman. Setelah berkumpul sekitar 500 orang, mereka kemudian berjalan kaki ke Masjid Alamarkaz Alislam, yang jaraknya sekitar 1 kilometer. Dalam aksi itu, setiap pengunjuk rasa membawa satu kitab suci Alquran.
Dalam orasinya, Humas DPD HTI Sulsel, Hasanuddin Rasyid menegaskan, Alquran yang mereka bawa adalah kitab suci yang diagungkan umat Islam. Alquran yang mereka bawa kali ini, kata Hasanuddin, bertujuan untuk membuktikan kepada dunia internasional tentang keagungan Alquran.
"Kami memiliki misi untuk menyelamatkan Alquran. Jika Alquran ini betul-betul dibakar, maka kami akan marah besar," tegas Hasanuddin Rasyid, sambil mengacungkan Alquran ke udara, diiringi teriakan takbir berkali-kali.
Bahkan dalam selebaran dan puluhan pamflet yang mereka bawa, HTI mengajak umat Islam dunia agar melawan pembakaran Alquran itu dengan berjihad. Alasannya, pembakaran tersebut merupakan bagian yang melukai hati umat Islam. "Jika ternyata betul digelar, maka itu melecehkan agama Islam," tegasnya lagi.
Untuk itu, dalam poin pernyataan sikap HTI Sulsel, mereka mendesak agar Pemerintah AS, umat Kristen termasuk di Indonesia untuk menggagalkan rencana itu. Alasannya, jika pembakaran dilakukan, maka akan memancing umat Islam untuk bereaksi dan marah.
Di sisi lain, HTI menilai, jika pembakaran Alquran itu terjadi, maka itu membuktikan bahwa Islam sudah kalah telak karena sudah lemah, termasuk tidak bersatu melindungi kehormatan Islam. Pada poin terakhir, HTI Sulsel mengajak Umat Islam dunia bersatu kembali dan meperjuangkan tegaknya Syariah dan Khilafah.
Meski berlangsung tertib, belasan polisi terlihat mengawal aksi tersebut. Pengawalan dilakukan guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya hal yang tak diinginkan saat aksi demonstrasi, serta mengatur lalu lintas agar tetap tertib. (umi)
Laporan: Rahmat Zeena | Makassar