Nasional

Kasus Malaysia Ancam Posisi RI di ASEAN

Indonesia akan menjadi ketua ASEAN pada 2011. Masalah Malaysia jadi beban berat.

Kamis, 2 September 2010, 15:18 WIB
Elin Yunita Kristanti
Marty Natalegawa (Antara/ Widodo S Jusuf)

VIVAnews – Menyelesaikan konflik dengan Malaysia, merupakan beban besar bagi Indonesia. Apalagi, Indonesia akan menjadi ketua ASEAN pada 2011.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa.

“Tahun depan ini akan jadi ketua ASEAN 2011. Itu sangat strategis. Sehingga  beban kita makin besar, untuk menunjukkan kita mampu menyelesaikan masalah dan tidak akan membiarkan situasi berkembang yang merugikan kepentingan nasional dan regional kita," kata Marty usai bertemu dengan Menteri Luar Negeri Thailand, Kasit Piromya di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Kamis 2 September 2010.

Untuk itu, Indonesia sangatlah berhati-hati dalam menyelesaikan konflik tersebut melalui jalur diplomasi.

Dijelaskannya, dalam kerangka ASEAN, Indonesia tidak membiasakan menjadi bagian dari  permasalahan.

“Kita problem solver [pemecah masalah], negara yang membantu negara lain memecahkan masalahnya. Kalau kita ada masalah dengan negara di ASEAN, kita harus selesaikan dengan baik" ujar Marty.

Menurutnya, dunia dan ASEAN akan melihat Indonesia, apakah sama seperti negara lain yang saling sikut, atau dipercaya sebagai penengah.

"Kita berjuang sekaligus memastikan kedaulatan kita. Namun semua itu dilakukan dengan cara-cara yang baik, tepat melalui jalur diplomasi. Karena yang sedang dipertaruhkan saat ini, tidak hanya dalam hubungan Indonesia-Malaysia, melainkan juga posisi Indonesiaa di ASEAN." tegas Marty.

Hubungan Indonesia- Malaysia kerap memanas akibat permasalahan dua negara berjiran yang tak kunjung selesai.

Terakhir, insiden saling tangkap di perairan Bintan, Jumat 13 Agustus 2010 memicu gelombang protes di Indonesia.

Massa Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) bahkan bertindak ekstrim, melempari Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta dengan tinja. Juga menginjak dan membakar bendera Malaysia, Jalur Gemilang.  (umi)

Laporan : Peni Widarti | Bali



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
DUIT
04/09/2010
Perang gak berani...tapi korup no.1 di dunia alias paling berani dan pintar.
Balas   • Laporkan
gara
03/09/2010
hajar aja dah malaysia ....tuman mun di antep mh ( bahasa sunda) (kalo di biarin ngelunjak tuh malay ) merdekaaaaaaa
Balas   • Laporkan
Tusino Mukti
03/09/2010
Buat apa perang dgn sodara ndiri. Akan melukai diri ndiri. Mendigan gabung jadi negara besar. Dengan kekuatan besar, akan lebih berwibawa n disegani di dunia. Sapa yang gak takut dengan kekuatan 2 negara ini jika disatukan. Allahu akbar.
Balas   • Laporkan
Tusino Mukti
03/09/2010
Hayo gabung...! Indonesia = Malay dua negara muslim Gabung aja menjadi satu negara. Kita pilih orang2 terbaik dr keduanya jd pemegang amanah kekuasaan, masing2 ada wakilnya. Adil, damai, kuat, jaya. Jadi negara muslim terbesar. Hayp sapa dukung......!
Balas   • Laporkan
Tusino Mukti
03/09/2010
Jgn perang lah, qt 2 negara muslim. Upaya membawa Indonesia n Malay perang, di belakangnya mesti ada kepentingan Amrik and Europe. Mendingan kita gabung aja jadi satu negara, dijamin akan menjadi negara muslim yang jauh lbh kuat, besar n wibawa.
Balas   • Laporkan
Bejo
03/09/2010
perdamain adalah prestasi tertinggi dimasa modern, perang adalah kemunduran peradaban yang paling memalukan, menyengsarakan, menyakitkan.
Balas   • Laporkan
percuma
03/09/2010
maaf, ini adalah sebuah usaha kaum yahudi, untuk mengadu domba 2 negara islam terbesar di dunia untuk dapat mereka kuasai. bacalah bawasannya haram bagi kita untuk membunuh sesama muslim. ingat ini sebuah jebakan dan serangan dari kaum yahudi. hati hati..
Balas   • Laporkan
robyroby | 03/09/2010 | Laporkan
maaf pemerintah dan elit malaysia kalau begitu adalah antek yahudi. jangan provokasi dan sok jagoan lagi di masa depan. dalam islam mati membela kebenaran adalah mati syahid. hati2
rakyat indonesia
03/09/2010
mau pake jalur diplomasi berapa kali lagi??? toh nyatanya malay tambah pongah.... perang demi hargadiri lebih terhormat daripada damai tapi diusik!!!! malay perlu diberi shock therapy.....
Balas   • Laporkan
ompong grup
03/09/2010
sebaiknya kita pikirkan lebih jauh untuk menuju perang dengan negri boneka itu indonesia bukan yang dulu ,indonesia sekarang dipimpin oleh pemimpin yang sok alim dan berjiwa pengecut
Balas   • Laporkan
andromeda Al-hakim
03/09/2010
sebaiknya kita pikirkan lebih jauh untuk menuju perang dengan negri boneka itu indonesia bukan yang dulu ,indonesia sekarang dipimpin oleh pemimpin yang sok alim dan berjiwa pengecut
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ