Nasional

Makna Kartu Lebaran Rp1,7 M Gubernur Jabar

Gubernur ingin memperhatikan warganya melalui selembar ucapan permohonan maaf.

Jum'at, 27 Agustus 2010, 10:35 WIB
Arfi Bambani Amri
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Humas Pemprov Jabar)

VIVAnews - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengirim Kartu Ucapan Idul Fitri atau Lebaran dengan niat murni menjalin silaturahim, sekaligus menyapa warganya yang ada di pelosok Jawa Barat yang mungkin belum disentuh teknologi, baik itu pesan singkat/SMS maupun email/Internet.

Dari jumlah penduduk Jawa Barat yang mencapai 43 juta lebih dan tersebar luas di 26 Kabupaten/Kota, maka  450 ribu kartu yang dikirimkan hanya sekitar 1 persennya saja.

“Nilai rasa, perhatian, silaturahim, keakraban dan kebahagiaan tidak bisa dikalkulasi dengan rupiah. Saya yakin Kartu Ucapan Lebaran  lebih mampu menghadirkan ruang visual dan ruang teks yang lebih dekat bagi Gubernur dalam menyapa warganya," kata Heryawan secara tertulis ke VIVAnews, Jumat 27 Agustus 2010.

"Sehingga pilihan mengirim Kartu Lebaran bukan hal yang salah. Mengirim pesan singkat atau SMS juga saya tempuh, apalagi jumlah kartu yang dikirim hanya 1 persen dari jumlah penduduk Jawa Barat,” ujar Heryawan.

Meski hanya mengirim untuk 1 persen penduduk, satu perangko pengiriman bernilai Rp1.500 atau total Rp675 juta. Biaya mencetak kartu ini Rp700 juta.

Menurut Heryawan bukan hal yang dilarang jika seorang Gubernur yang dipilih langsung oleh rakyat, memilih cara berkomunikasi melalui kiriman Kartu Lebaran. Dengan cara itu, Gubernur ingin memperhatikan warganya melalui selembar ucapan permohonan maaf di hari yang istimewa, Idul Fitri 1431 Hijriyah.

Baginya, dengan Kartu Lebaran merupakan wujud penghargaan yang tinggi atas dukungan dan doa warga Jawa Barat atas tugas yang menjadi amanahnya.  Sekaligus wujud komitmen dan tanggung jawab moral berbagi  kebahagiaan di hari yang Fitri bagi warganya.

“Sentuhan yang lebih personal sebuah kartu ucapan mampu mewakili kehadiran seseorang,  mewakili ungkapan hati, sekaligus mengobati kerinduan hati. Bahkan Sebuah kartu ucapan dapat memberi kehangatan dan mendekatkan hati,” tutur Heryawan yang diusung Partai Amanat Nasional dan Partai Keadilan Sejahtera itu.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
cep
22/09/2010
emang apa yang dah elo elo kerjakan buat bangsa ini lhu lhu kan bisa hujat doanng ga kerja apa-apa kayak gentong
Balas   • Laporkan
ade
17/09/2010
Saya sudah muak dengan PKS yang katanya Amanah. 3 pemilu saya pilih PKS. Realitanya kader PKS banyak akal2an, banyak kasus. Di tinjau dari logika manapun, tidak benar kartu ucapan lbaran smahal itu. Apa si gub ni tidak punya kesibkan lain yg lebih penting
Balas   • Laporkan
bucek
07/09/2010
salam pribadi pake uang rakyat...katanya anti korupsi ternyata...ckckck...dah brani terang2an...
Balas   • Laporkan
aguero
07/09/2010
enaknya yg dapet order cetakan kartu ya. hehehe..!!
Balas   • Laporkan
Jasmina
07/09/2010
Pak gubernur, saya sangat setuju kalau kartu itu dibuat bukan dari uang rakyat.... Koq tega sih pak rakyat harus membayar untuk ucapan maaf bapak.... Jangan mengatasnamakan silaturrahmi pak untuk kepentingan pribadi.... Sayang kalau akhir nya seperti ini.
Balas   • Laporkan
Chandra
07/09/2010
Iya Ngga Salah kalau Pake Uang Pribadi..Ini Malah Pake Uang Rakyat??gimana sih pikirannya????PKS mana Ya???
Balas   • Laporkan
pupung
05/09/2010
"Pak Gubernur" mumpung suasana lebaran minta maaf aja lagi, kalau memang terbukti uang rakyat yang dipakai buat cetak kartu lebaran. Rakyat paling mudah memaafkan koq daripada para Pejabat/Penguasa. Kesempatan Harga Diri belum Naik lho pa Ustad...haa...ha
Balas   • Laporkan
hamba
04/09/2010
Mudah2an musibah ini bukanlah teguran karena "kartu lebaran" http://bandung.detik.com/read/2010/09/04/152535/1435029/486/polisi-segera-panggil-anak-sulung-ahmad-heryawan?g991102485
Balas   • Laporkan
jajang
03/09/2010
maju terus pak,banyak yang syirik dngn keberhasilan bapak memimpin jabar ini.....
Balas   • Laporkan
Jacob Ereste
02/09/2010
1,7 milyar mau bersaing dengan 1,3 triliun yang mau digunakan DPR RI berdalih membangun gedung baru. Jadi para koruptor di negeri kita, bukan saja sudah membudaya, tapi bersaing dan menajdi tranded para elit penguasa; legislatif, yudikatif dan eksekutif
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ