Nasional

RI Resmi Kirim Nota Protes ke Malaysia

Protes dilayangkan ke Dubes Malaysia di Jakarta hari ini, pukul 11.00 WIB.

Rabu, 18 Agustus 2010, 13:29 WIB
Umi Kalsum, Agus Dwi Darmawan
Marty Natalegawa (Antara/ Widodo S Jusuf)

VIVAnews - Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa memastikan insiden antara petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Polis Marine Malaysia benar terjadi di wilayah perairan Indonesia.

Hasil pengecekan koordinat membuktikan hal itu. Pemerintah Indonesia pun secara resmi melayangkan Nota Protes kepada pemerintah Malaysia. Nota protes tersebut disampaikan pukul 11.00 WIB.

Insiden saling tangkap di perairan Tanjung Barikat, Bintan, terjadi Jumat 13 Agustus 2010 malam. Saat itu tiga petugas KKP ditangkap polisi air Malaysia sebagai balasan penangkapan atas tujuh nelayan negeri jiran yang memasuki perairan Indonesia.

"Kami dari Kemenlu sudah dapat menetapkan bahwa insiden dimaksud terjadi di wilayah Indonesia. Kita selalu terapkan azas kehati-hatian, koordinat di mana. Ini yang menjadi data yang dilampirkan sebagai nota diplomatik dalam nota protes kita," beber Marty dalamn jumpa pers di Kemenlu, Jalan Pejambon, Jakarta, Rabu 18 Agustus 2010.

Pelanggaran, kata Marty, tidak  hanya menyangkut tujuh nelayan, tetap juga  penghadangan kapal KKP Dinas Kepulauan Riau oleh polisi air Malaysia. "Karena itu tanpa menunda satu menit pun, kita segera melontarkan nota diplomatik atas pelanggaran kedaulatan ke pemerintah Malaysia, resmi dikirimkan hari ini," kata Marty. Nota protes itu dikirim ke Duta Besar Malaysia di Jakarta.

Sebelumnya secara tidak resmi, pemerintah juga sudah menyampaikan sikapnya dalam berbagai kesempatan. Nota diplomatik itu, kata Marty, tidak  hanya menyoal protes pelanggaran wilayah, tetapi juga sikap pemerintah Indonesia yang mengecam tindakan Malaysia atas penahanan tiga petugas Indonesia.

"Kita menyatakan prihatin karena ini bertentangan dengan hukum internasional yang berlaku. Langkah Malaysia tidak dibenarkan. Jadi kita sampaikan ini keprihatinan kita bahwa kita tidak bisa menerima," kata Marty. (hs)

• VIVAnews
Rating
Komentar
krisna jutex
07/09/2010
klo bs di slesaikan dgn kpla dingin,,,,jgn sm2 mau mnang sndri........mnang jg gx ad untung nya,,,,klah jg rugi yg jd korban kan rakyat kcil...........
Balas   • Laporkan
santi selalu
31/08/2010
ayyoo lwan dngan kpintaran ,, bkan dgn otot ,, damaii
Balas   • Laporkan
Jaka
20/08/2010
Nota protesnya jadi bungkus kacang pak.., atau masuk tong sampah... Saya yakin itu...
Balas   • Laporkan
upin nipu
19/08/2010
serang.. malysia
Balas   • Laporkan
Upin Nipu
19/08/2010
Serang Malaysia ga perlu pake TNI, karena TNI nunggu perintah SBY, Kita bwa Unyil, pak Ogah saja kita serang negara UPin dan Ipin. Rakyat Indonesia Bersatulah.... !!!
Balas   • Laporkan
eson
18/08/2010
setuju dgn andre n yos.. rakyat siap menghadapi malay wlau pake bambu runcing.. Ganyang malaysia...
Balas   • Laporkan
eson
18/08/2010
setuju dgn andre n yos.. rakyat siap menghadapi malay wlau pake bambu runcing.. Ganyang malaysia...
Balas   • Laporkan
andrue
18/08/2010
memalukan. indonesia bukan bangsa yang pengecut, aku rindu bung karno
Balas   • Laporkan
yos
18/08/2010
mlysia tuh bkn suatu negara yg punya bangsa asli seperti kita, smua wargax cmprn dr mana2 yg tdk punya nyali untuk perang, kok suka2nya n brani2nya ganggu kita. Yuk bangsaku kita rame2 bawa bambu runcing kesana gak usah tunggu perintah bpk SBY
Balas   • Laporkan
aditian
18/08/2010
Sikap terlalu sabar n toleransi yang begitu tinggi nampaknya jd boomerang...hayu Indonesia jangan takut, rakyat sdh siaga di belakangmu.
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ