Nasional

Hilangnya Tradisi Berbuka Puasa di Gereja

Padahal, dengan kegiatan itu dapat mengembangkan dialog dengan umat beragama lain.

Rabu, 11 Agustus 2010, 13:37 WIB
Amril Amarullah
Berbuka Puasa di Gereja Manahan Solo (Fajar Sodiq | Solo)

VIVAnews - Dahulu, halaman Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan, Solo yang megah itu, sempat terasa sesak. Apalagi, bila waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 Wib, orang terlihat lalu lalang di sekitar gereja.

Semua sibuk menata ruangan, makanan dan minuman dijajar di halaman muka gereja. Para pengurus gereja ini sibuk mempersiapkan sajian berbuka puasa bagi umat muslim di sekitar Gereja Kristen Jawa Manahan Solo, Jawa Tengah.

Tidak gratis memang, setiap orang yang ingin merasakan berbuka di Gereja itu harus mengeluarkan kocek tidak besar, hanya Rp 500/orang. Maka mereka sudah bisa menikmati satu porsi makanan.

Mereka yang berbuka rata-rata adalah para tukang becak, kuli bangunan, pedagang asongan, tukan kayu dan masyarakat kalangan bawah lainnya. Bahkan, para pejalan kaki yang kebetulan melintasi Gereja Manahan.

Menu yang disajikan pun bervariasi, mulai dari nasi soto, kare, sop dan timlo. Bahkan tidak ketinggalan makanan pembuka seperti agar puding juga disediakan panitia.

Pemandangan ini dapat dilihat di setiap bulan suci Ramadan, hanya di Gereja Manahan, Solo. Tapi, kini semua itu tinggal kenangan, sejak dimulai pada tahun 1997.

Ide awalnya baik, adalah ingin membantu sesama manusia yang dimediasi oleh gereja. Tapi, kini semua tinggal kenangan. Para tukang becak, pedagang, kuli bangunan dan pejalan kaki tidak bisa lagi menikmati makanan dan sajian lagu-lagu rohani Islam yang diperdengarkan oleh panitia.

Penyebabnya, sebuah lembaga swadaya masyarakat Islam di Surakarta bernama Forum Ukhuwah Islamiyah Elemen Umat Islam Surakarta menutup kegiatan tersebut, dan melarang tradisi gereja Manahan untuk memberikan makanan bagi umat muslim yang akan berbuka puasa.

Dalam pernyataan sikapnya, mereka berpandangan bahwa puasa di bulan Ramadan adalah ibadah yang hanya diperuntukan bagi umat Islam, termasuk berbuka puasa.

"Kami sepakat menyatakan, satu menolak pelaksanaan penjualan atau pembagian nasi murah untuk buka puasa di area Geraja Kristen Jawa Manahan, dan atau yang diadakan oleh gereja-gereja lain."

Kedua, menolak segala bentuk rekayasa pelaksanaan poin pertama dengan seolah-olah diadakan oleh pihak lain. Ketiga mendesak kepada Kapolresta Surakarta dan jajarannya untuk menghentikan acara tersebut, karena bila tidak dihentikan akan menimbulkan gejolak di kalangan umat Islam.

Sebagai pengganti, Elemen Umat Islam Surakarta akan menampung  masyarakat yang ingin berbuka puasa, pelaksanaan buka puasa gratis di seluruh Masjid di Surakarta, dan beberapa tempat lainnya.

Meski demikian, Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani mengaku tidak kecewa atas keputusan itu. Padahal, menurutnya, dengan kegiatan itu, dapat mengembangkan dialog dengan umat beragama lain guna menciptakan jembatan menuju perdamaian.

"Sehingga, yang melakukan dialog tidak hanya kalangan pimpinan agama tetapi kalangan bawah juga ikut diajak. Dan ini merupakan kegiatan lintas agama yang terjadi dikalangan grassroot," ujar Pendeta Retno kepada VIVAnews.

Laporan: Fajar Sodiq | Solo



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
pakde
13/08/2010
(sura)niatnya baik kok,situ yg protes,,(slamet)ga ada mksd ap2 kok mas,cm mo bantu org kcil aja,,(muslimin)klo kmu kaya,mbok y bagi donk ke org2 kcil,msa org lain yg bagi?(susi) mo bkn ditmpt spsifik kek,pake tenda kek,bazar kek,psti deh tetap diprotes!
Balas   • Laporkan
susi
12/08/2010
Lakum dinukum waliadin...UNTUKMU AGAMAMU - UNTUKKU AGAMAKU...Beribadah di tempat masing-masing..biar gak timbul fitnah...Lagian kalo mang mo nolong gak usah spesific gitu tempatnya..misalnya buka Bazar Murah..pake tenda kan lebih baik...
Balas   • Laporkan
Muslimin
12/08/2010
Gitu aja kok repot.... biar aja kami org2 muslim dah cukup kaya gak perlu dibantu.. nnati kalo dah susah baru cari org2 gereja... hehehehehe
Balas   • Laporkan
ilu
11/08/2010
org2 yg makan pada ga protes tuh,kok yg laen pada protes y?apa ga kebagian kali..hehe...trus napa ga buat juga?...hayoo..pasti ga buat sprti itu kn?...lagiann,mo disumbangin ke mesjid,musholla,dll psti ditolak juga tuh,,curigaan mulu sih...
Balas   • Laporkan
cahyo
11/08/2010
seharusnya seruan ini digemakan saat masyarakat Aceh menerima bantuan dr tentara USA dan dari negara2 "kufur" pasca Tsunami,sementara bantuan dr negara arab baru muncul (dlm jumlah tak seberapa) bbrp minggu kemudian
Balas   • Laporkan
ipunk
11/08/2010
kalo pengen kashy jgn pass waktu buka deh....... buat apa??????
Balas   • Laporkan
tom
11/08/2010
Memang berbuat kebaikan tidak lah mudah. Jangan terpancing dengan isu-isu yang malah menghilangkan kebaikan itu sendiri. baik untuk gereja maupun elemen ulmat Islam, berkacalah dan jgn mengorbankan rakyat kecil dengan ego kalian
Balas   • Laporkan
kristin
11/08/2010
Islam adalah agama yg mulia,Tetapi akibat segelintir orang pemeluknya seperti Forum Ukhuwah Islamiyah Elemen Umat Islam Surakarta dan forum2 lain yg sok bersih, dan melarang tradisi toleransi antar umat beragama, Membuat agama Islam tercemar.Slamt berpuas
Balas   • Laporkan
org gila
11/08/2010
Wahai saudara setanah air,jangan campur adukan antara kepercayan serta agama anda dengan org lain,baik itu tata cara peribatannya sampai yg sedetilnya,menghormati adalah benar tapi mencampurinya adalah tindakan yg salah.
Balas   • Laporkan
Elysen Viviena Megarona
11/08/2010
bagus tu tradisi seperti itu perlu dipupuk toleransi sperti itu jangan merasa paling benar trus ngak mau berdampingan dengan yg lain.bukankah yang Di atas mewajibkan kita untuk hidup rukun antar umat manusia, tanpa mengkotak kotakkan diri yg bikin rusuh
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ