VIVAnews - Teror pembunuhan terhadap wartawan di Merauke, Papua belum berakhir. Sore tadi, giliran Lala, wartawan Harian Bintang Papua yang diterjang teror. Demi keselamatannya, Lala kini dievakuasi ke Mapolres Merauke.
Pemimpin Redaksi Harian Bintang Papua, Amri, kepada wartawan di Jayapura, Sabtu 31 Juli 2010, menuturkan, teror diterima Lala sekitar pukul 18.00 WIT.
Menurut Amri, usai salat maghrib di rumahnya, Lala berniat memasukkan motor dari luar ke dalam rumah. Saat itu di teras rumahnya ia mendapati sebuah amplop dengan cap darah. Penasaran, ia kemudian membuka amplop tersebut. "Amplopnya dicap darah, sementara kertasnya berlumuran darah," ujar Amri.
Sontak Lala ketakutan dan saat itu langsung menelepon polisi. Tidak berapa lama kemudian, polisi tiba di rumah Lala, dan langsung mengevakusinya ke Markas Polres Merauke. "Besok Minggu Lala akan dievakuasi ke Jayapura, karena ia masih terus diselimuti rasa ketakutan," ujar Amri.
Amri menandaskan, polisi harus segera mengungkap pelaku, karena teror terhadap para jurnalis di Merauke sudah sangat meresahkan dan mengganggu pekerjaan.
Adapun isi teror surat berlumuran darah itu, "Ingat kami tidak pernah main-main dengan ancaman kami. Kami tahu Polisi sedang mencari siapa oknum itu. Maaf kami tidak lengah, mati kami".
Juru Bicara Polda Papua Kombes Wachyono membenarkan adanya aksi teror itu dan saat ini Lala sudah diamankan di Mapolres Merauke. "Lala sekarang di Polres demi keamanannya," jelas Wachyono.
Hari ini puluhan wartawan Papua mendatangi Mapolda Papua. Mereka meminta polisi menyelidiki teror tersebut. Mereka juga minta polisi menjelaskan hasil otopsi Ardiansyah, wartawan TV Merauke yang ditemukan tewas kemarin.
Sebelumnya Ardiansyah dikabarkan hilang misterius. Dia diketahui hilang sejak Rabu 28 Juli 2010 sekitar pukul 18.00 WIT. Saat itu, sepeda motor dan helmnya ditemukan di Jembatan Tuju Wali-wali Merauke. Jumat kemarin Ardiansyah ditemukan tewas dan jasadnya ditemukan mengambang di sungai. (umi)
Laporan: Banjir Ambarita | Papua
• VIVAnews