VIVAnews - Puluhan wartawan di Papua, baik lokal maupun nasional, siang tadi mendatangi Markas Polda Papua di Jalan Sam Ratulangi, Jayapura. Mereka menanyakan hasil penyelidikan teror ancaman pembunuhan terhadap jurnalis, dan hasil otopsi wartawan TV Merauke, Ardiansyah, yang ditemukan tewas dua hari lalu.
Para jurnalis sempat menunggu cukup lama, karena hari Sabtu bukan hari kerja, aktivitas Polda lengang. Kepada juru Bicara Polda Papua Kombes Wachyono kemudian menemui wartawan, 31 Juli 2010, Ketua AJI Papua Victor Mambor lantas meminta polisi mengusut pelaku teror terhadap jurnalis di Merauke serta secepatnya mengungkap kematian wartawan Ardiansyah yang ditemukan tewas di Sungai Gudang Arang Merauke.
"Polisi harus segera mengungkap pelaku teror kepada wartawan dan menyimpulkan penyebab kematian wartawan," tandas Victor.
Ia juga meminta agar polisi memberikan perlindungan dan rasa nyaman kepada para pekerja pers di Merauke maupun Papua. "Tugas polisi jelas memberikan rasa nyaman di masyarakat termasuk para jurnalis," tegasnya.
Pemred Harian Bintang Papua yang wartawannya juga diteror ikut mendesak polisi mengungkap pelaku teror ancaman pembunuhan terhadap wartawan di Merauke. Sebab, akibat teror itu, saat ini para jurnalis di Merauke merasa ketakutan dalam melaksanakan tugas jurnalisnya. "Ini jelas menjadi tanggung jawab polisi, mencari dan menangkap pelaku teror. Juga usut tuntas penyebab kematian wartawan," ucapnya.
Menanggapi permintaan para jurnalis itu, Wachyono menandaskan, pihaknya saat ini melalui Satuan Intel Polres Merauke sedang menyelidiki pelaku teror. Bahkan, untuk mengungkap nomor HP pelaku yang mengirim SMS teror, sudah melibatkan Densus 88. "Kami terus berupaya mengungkap aksi teror ini, Densus juga kami libatkan, karena mereka memiliki alat pelacak HP," tukasnya.
Sedangkan bagi wartawan yang diteror, polisi juga memberikan pengawalan baik terbuka maupun tertutup. "Kami terus mengawasi para wartawan yang diteror," ketusnya.
Mengenai penyebab kematian Ardiansyah, Sambung Wachyono, belum diketahui secara pasti, karena hasil visum maupun otopsi baru dikeluarkan Senin 2 Agustus nanti. "Kami masih menunggu hasil visum dan otopsi dari Rumah Sakit dan Puslabfor Makassar," imbuhnya.
Namun, dari keterangan pihak Rumah Sakit Merauke, di tubuh korban ditemukan luka-luka memar. Bahkan, di paru-paru korban ditemukan banyak air. Namun Wachyono belum berani menyimpulkan apakah ada bekas tembakan di tubuh korban. "Kita tunggu hasil visum dan otopsi," katanya.
Yang jelas, Polisi akan berupaya mengungkap kasus ini secepatnya. Pihak keluarga korban hingga saat ini belum bersedia memberikan keterangan kepada wartawan.
Aksi teror ancaman pembunuhan menghantui para jurnalis di Merauke. Wachyono sebelumnya mengaku aksi teror itu diduga ada kaitannya dengan proses pemilukada di Merauke yang saat ini sedang berlangsung. (umi)
Laporan: Banjir Ambarita | Papua