VIVAnews - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai penyebab utama ledakan tabung gas adalah ekonomi, yakni adanya disparitas harga gas di tabung 3 kilogram (kg) dan 12 kg. Dia mengakui masalah tabung gas ini menjadi tanggung jawab dirinya secara moral bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Masalah ledakan ini bukan masalah konversi. Ini masalah kriminal karena ada pemaksaan berupa pengoplosan," kata Kalla di Jakarta, Jumat 30 Juli 2010. Pengoplosan ini terjadi karena besarnya disparitas harga per kg elpiji di tabung 3 kg dan 12 kg.
Harga elpiji di tabung 3 kg sebesar Rp4250 sedangkan 12 kg dijual seharga Rp5850. "Disparitasnya lebih dari 1000, terlalu besar. Pemerintah harus memperkecil disparitas ini," kata dia.
Cara memperkecil disparitas dengan menaikkan harga elpiji di tabung 3kg menjadi Rp4500 dan menurunkan harga elpiji di tabung 12 kg menjadi Rp5500 per kg. "Jadi selisihnya kan pas 1000. Aman kalau begini," kata dia.
Apakah rakyat kecil tidak protes jika gas di tabung 3 kg dinaikkan? "Tabung 3 kg dinaikkan menjadi 4500 itu setara dengan harga minyak tanah 2000 per liter," jelasnya. Karena. lanjut dia, kekuatan 1 kg elpiji sama dengan 2,2 liter minyak tanah. "Itu tetap murah."
Di samping itu, dia menyarankan, Pemerintah bisa membagikan secara gratis aksesoris tabung gas sehingga rakyat tidak merasa terlalu terbebani dengan kenaikan gas di tabung 3kg.