VIVAnews - Sejumlah jurnalis di Merauke, Papua diresahkan dengan ancaman pembunuhan oleh kelompok tak dikenal. Peneror mengancam tidak hanya membunuh, bahkan memperkosa wartawati yang tetap menulis tentang Merauke.
Lala, wartawati Harian Bintang Papua mengaku, mengalami teror sejak Minggu, 25 Juli hingga hari ini, Kamis 29 Juli 2010. Waktu itu, dia pulang kerja, dan sebuah mobil mengikutinya hingga ke rumah.
"Saya tahu diikuti dari kantor sampai rumah, tapi saya tidak menghiraukan. Tapi, tidak lama berselang, pesan ancaman melalui SMS (Short Message Service) masuk dan mengaku dari mobil yang mengkuti saya tadi,"
Intinya, mereka meminta 'jangan bikin berita di daerah ini, kalau mau cari makan jangan bikin gerakan tambahan atau kamu akan saya habisi' "Itu sms pertama yang saya terima," ujar Lala menceritakan teror yang dialaminya.
Puncaknya, lanjut Lala, Senin 26 Juli sekitar pukul 19.00 Wit, selain dibuntuti mobil yang sama, saat tiba di rumah, sms dari nomor tak dikenal masuk, isinya: 'sudah pulang ya, padahal kami ingin menikmati tubuhmu. Hari ini kesempatan masih diberikan, lain kali kamu akan dihabisi'
"Kebetulan saat itu saya pulang cepat ke rumah, rupanya mereka mengetahuinya, sehingga mengirim SMS ancaman," ujar Lala.
Tidak tahan dikuntit dan diteror, tambah Lala, dirinya kemudian melapor ke Polisi, Rabu 28 Juli. "Saya sudah buat laporan kemarin, saya mulai ketakutan dan tidak konsentrasi mencari maupun membuat berita," tandas Lala.
Menurut Lala, dirinya sama sekali tidak mengetahui siapa pelaku teror. Namun, terkait pemberitaan, sejak turunnya berita baliho Pemilukada Merauke, ancaman dan teror menghantuinya.
"Sejak pengrusakan baliho yang diduga. dilakukan salah satu kandidat bupati yang tidak lolos, diberitakan, sejak itu juga teror terus datang," ucapnya.
Tidak hanya Lala, teror serupa di alami Pemimpin Redaksi Harian Papua Selatan Pos, Raymond juga diancam melalui SMS. "Saya juga kaget menerima sms yang isinya ancaman," kata Raymond ketika dikonfirmasi Kamis 29 Juli. Isi smsnya, sambung Raymond, sama persis dengan yang diterima rekan-rekan jurnalis yakni:
"Genderang perang sudah siap, basis massa tinggal dikerahkan, satu persatu akan kami bantai, Merauke siap berlumuran darah, Polisi dan TNI mandul ha ha ha...Para wartawan pengecut jangan pernah bermain api kalau tidak mau terbakar. Karena api akan membakar sekujur tubuhmu. Kalau masih mau makann ditanah ini jangan membuat aneh. Kami sudah mendata kalian semua dan bersiaplah untuk dibantai, ha ha ha,"
Awalnya, Raymond tidak terlalu mengindahkan, namun, karena rekannya yang lain juga mendapat ancaman serupa, mereka kemudian sepakat melapor ke Polisi. "Tadi kami sudah resmi melapor ke Polisi, dan Polisi berjanji siap memberikan pengawalan terbuka mapun tertutup," ungkap Raymond.
Raymond meski belum bisa memastikan, tapi mensinyalir, teror ancaman itu ada kaitannya dengan proses Pemilukada Merauke yang sedang berlangsung. Rencananya 8 Agustus akan dilakukan pemungutan suara.(np)
Laporan: Banjir Ambarita | Papua