Nasional

Tujuh Fatwa Terbaru MUI

Salah satunya, MUI mengharamkan bank sperma dan donor sperma. Enam lagi?

Rabu, 28 Juli 2010, 08:25 WIB
Arfi Bambani Amri
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) H.A. Amidhan (Antara/ Widodo S Jusuf)

VIVAnews - Musyawarah Nasional Majelis Ulama Indonesia menghasilkan tujuh fatwa baru atas sejumlah permasalahan. Fatwa ini disampaikan semalam, Selasa 27 Juli 2010 di Jakarta.

Berikut tujuh fatwa itu:
1. Membolehkan asas pembuktian terbalik dalam kasus hukum tertentu misalnya untuk pembuktian kekayaan seseorang yang diduga diperoleh secara tidak sah;

2. Membolehkan pilot yang sedang bertugas tidak berpuasa di bulan Ramadan. Bagi yang terbang terus-menerus dapat mengganti puasa dengan fidyah, sementara yang temporal bisa mengganti dengan puasa di lain hari;

3. Mengharamkan kawin kontrak atau nikah wisata;

4. Operasi ganti kelamin tanpa ada alasan alamiah dalam diri yang bersangkutan sesuai regulasi Kementerian Kesehatan diharamkan. Pengharaman ini juga berlaku bagi tenaga medis yang melakukan. Namun MUI membolehkan penyempurnaan alat kelamin;

5. Mengharamkan donor sperma dan bank sperma. Namun Bank Air Susu Ibu dibolehkan;

6. Mengharamkan donor organ jika pendonor masih hidup. Pendonor harus sudah meninggal, sukarela dan tidak komersial. Sementara donor organ binatang dibolehkan jika tak ada pilihan lain.

7. Mengharamkan pemberitaan, penyiaran dan penayangan aib orang. Pengecualian hanya demi kepentingan umum seperti untuk penegakan hukum. (hs)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
kardi
16/11/2010
AL-QUR'AN udah cukup sebagai 'KUHP'nya muslim..MUI jangan nambah berat jalan muslim menuju surga....
Balas   • Laporkan
yudha
05/08/2010
alhamdulilah ulama kita masih bisa menjadi teladan seperti yg diperintahkan allah swt didalam alquran,,klu bisa keputusan fatwa mui bisa menjadi keputusan politik nasional...insyaallah amin....
Balas   • Laporkan
fozi
01/08/2010
bagi yg gak ngerti agama mendingan gak usah koment pake bilang mui gak bisa memberi contoh segala auzubillah himinzaliq kalau muslim sudah gak mendengar kan para ulama mau jadi apa
Balas   • Laporkan
machrudi
30/07/2010
Astaghfiruloh stlah mlihat komentar dari tman tman trnyata sngguh mmprihatinkan kayanya utk mnrerima kbenaran dan keadilah susah banget.MUI sudah mlakukan musyawarah dari segenap jajaran dari pemuka agama tapi ternyata banyak yang tdk menerima.Sabar MUI..
Balas   • Laporkan
cinta damai
29/07/2010
apa jadinya jika dunia ini hanya berisi satu warna, hitam, ato putih saja?alangkah membosankan.. kita hidup di negara yang kaya dengan perbedaan, jadikan yang beda itu tetap indah..piss euy...
Balas   • Laporkan
lucky luke
29/07/2010
kebanyakan fatwa cape' deh.....urus aja dapur sendiri gak usah aneh2 aza....negar kita negara majemuk gak usah ngeluarin aturan dengan dasar kepentingan sendiri supaya di takuti.....koreksi diri sendiri dulu deh ya....mak nyoooooss..
Balas   • Laporkan
w
29/07/2010
Aku beragama tidak karena MUI, tetapi karena Tuhan. Jadi MUI mau omong apa terserahlah, sampai berbuih itu mulut juga boleh. Tapi yang jelas semua fatwa MUI nggak ngefek buatku. Memangnya MUI itu ulama berbaju Tuhan? He he he he . . . . . .
Balas   • Laporkan
jiyan
29/07/2010
woi.. negara ini adalah negara yang beragam.. bukan negara agama.. PANCASILA - BHINNEKA TUNGGAL IKA TAN HANA DHARMA MANGRWA. jangn "dipaksa" untuk diseragamkan.. jangan mempersempit gerak2 rkyat indonesia, laluhur sudah menunjukkan kemarahannya, sadarkah?
Balas   • Laporkan
Al-Fajr
29/07/2010
Kalo memang tidak tahu persis dgn agama alias tdk pernah ngaji,lebih baik ndak usah beromentar, Hati-hati berbicara apalagi ini menyangkut agama, bisa2 MURTAD kita..na`udzubillah..
Balas   • Laporkan
MUI=ORGANISASI ORANG TUA UDAH PENSIUN
29/07/2010
Halo MUI Ini bukti dari keputusasaan dan gagalnya para ulama selama puluhan tahun yang disebabkan oleh ulama itu sendiri yang tidak bisa di contoh. lalu muncullah MUI mengambil alih Tugas Tuhan yaitu TUKANG FATWA HARAM, MUI jadi TUHAN ????????????????????
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ