VIVAnews - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan prihatin atas kejadian ledakan gas yang kini marak menjadi pemberitaan media di Indonesia. Menurutnya, persitiwa tersebut hanya besar secara isu namun secara statistik bisa dikatakan kecil yakni 1 dari setiap 1 juta tabung.
Pemerintah, yang seharusnya bisa mengambil tindakan konkrit dalam mencegah ledakan, dinilai Jusuf Kalla justru belum terlihat langkahnya.
Karena itu, selaku ketua Umum PMI Jusuf Kalla berjanji akan menurunkan 1 juta relawan untuk turun langsung ke masyarakat untuk melakukan sosialisasi dan mendeteksi kerusakan gas di lapangan.
"Harus ada gerakan massif, untuk mencegah kejadian itu berulang-ulang, saya heran, negara sudah bisa berhemat Rp 40 triliun pertahun karena kebijakan konversi, dan untuk memperbaiki keadaan serta melakukan sosialisasi hanya membutuhkan dana Rp15 miliar, tapi belum ada tindakan nyata untuk itu," kata JK, melalui rilis yang diterima VIVAnews, Kamis 22 Juli 2010.
JK juga menyatakan tidak sependapat, dikatakan bahwa maraknya ledakan sebagai akibat bagian dari kebijakan konversi minyak tanah ke gas. Menurut JK, selama ini peningkatan tabung sudah meningkat dari 7 juta tabung menjadi 70 juta.
"Banyaknya ledakan tabung gas tidak bisa dikatakan sebagai akibat dari kebijakan konversi sebab bukan hanya tabung 3 kg saja yang meledak namun ada juga 12 kg," ujarnya.
Seperti diketahui, kasus ledakan gas yang terjadi menurut data Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), jumlah ledakan gas hingga juli 2010 ini tercatat ada 189 kali kasus ledakan dalam pemakaian tabung gas elpiji rumah tangga.
Jumlah 189 ledakan tersebut, 61 kasus terjadi di tahun 2008, kemudian turun menjadi 50 kasus pada 2009. Tapi kemudian jumlah temuan meningkat tajam hingga pertengahan 2010, mencapai 78 kasus. (hs)