VIVAnews - Istana membantah menolak memberikan bantuan kepada Susi Haryani, 29 tahun dan anaknya Ridho Januar, 4 tahun, korban ledakan gas yang mendatangi Istana Negara, kemarin.
Juru bicara kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Kantor Presiden menjelaskan bahwa telah terjadi salah komunikasi saat itu. "Sama sekali tidak menolak, saya kira ada salah persepsi, salah komunikasi disini," kata juru bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Kantor Presiden, 20 Juli 2011.
Bahkan, Julian mengatakan, dia sendiri yang langsung menghubungi Pertamina untuk segera menindaklanjuti. "Saya sendiri yang berbicara dan saya juga yang mengontak Pertamina, memberitahukan bahwa ada korban dari Jawa Timur dan sekarang ada di Istana Negara," kata mantan Wakil Dekan FISIP UI ini.
Lebih jauh Julian mengatakan, sebaiknya korban ledakan gas ditangani dengan baik di level terdekat, tanpa harus menemui Presiden. Dengan demikian, setiap korban atau orang yang merasa dirugikan tidak perlu mendatangi Istana Presiden.
"Intinya semua ada tahapan dan prosedur, tapi kalau datang ke istana itu tentu saja hak semua orang untuk datang," kata Julian.
"Namun yang selalu Bapak Presiden ingatkan, setiap ada hal-hal yang sifatnya mungkin, apakah itu korban seperti korban tabung gas agar ditangani dengan baik di level yang lebih dekat. Kalau di Jawa Timur ya, mungkin pemda setempat, atau hal-hal terkait dengan migas yang ada di sana. Sehingga tidak serta merta datang (ke Istana)," lanjut Julian.