VIVAnews - Pemberitaan mengenai video porno yang disinyalir mirip Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari, semakin ramai di media massa. Headline pemberitaan tersebut bahkan mengalahkan kasus-kasus korupsi.
Panasnya persoalan video mirip Ariel akan mengarahkan masyarakat pada opini besar yang dibangun lewat media. Masyarakat yang muak dengan ketidakjelasan kondisi negara yang penuh dengan penipuan dan korupsi, mungkin seakan mendapat pengalihan perhatian lewat berita video porno tersebut. Kondisi tersebut membuat khawatir beberapa pihak.
"Kepentingan bisnis dan idealis media tidak harus selalu saling menafikkan. Dalam menarik pengiklan perhatikanlah kata etika," ujar Veven Wardhana dalam dialog publik bertema “Hipokrit: Negara, Media dan Masyarakat Dalam Melihat Persoalan Seksualitas” di Galery Cafe, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu 23 Juni 2010.
Aliansi Jurnalis Independen juga menyayangkan maraknya pemberitaan video tersebut. "Stasiun TV hanya mengejar rating sehingga sering menampilkan berita sensasional. Bayangkan saat ini dalam sehari, 14 jam diisi infotainment di seluruh TV nasional, bahkan setiap minggu 125 program," kata Andy Budiman, anggota Aliansi Jurnalis Independen.
Pemilihan wilayah publik dan privat dianggap kurang jelas dan kabur. Antara gosip dan fakta juga tak jelas batasannya. Terkait dengan hal itu, Idy Muzayyad dari KPI mengatakan, televisi seharusnya lebih cerdas dalam pemberitaan.
"Jangan karena kebebasan pers dan semua fakta bisa ditampilkan. Konten televisi harus ditimbang implikasinya. Termasuk fakta seperti menampilkan potongan video Ariel-Luna itu fakta tapi perlu dilihat lagi implikasinya," kata Idy Muzzayad.
Buad Insan Pers Seluruh Dunia...Jgn Selalu Menuntut Kebebasan Pers Saja..Tapi Harusnya Kalian Semua Tau Etika...Jgn Salahkan Ariel-Luna-Tari Kerna Video Mesum Mereka Beredar Byk Pemerkosaan, Atau Anak Kecil Yg Meniru Adegan Tersebut!@ Salahkan Etika Kalia
semua yng kecil bisa besar kalau media yang memberitakan ,,,,,,,,,,,, apa nggak ada berita yg lain tentang rakyat yg miskin nggak makan,,,, lebih berjiwa sosial lah media perlu menkominfo beri pengarahan pada semua media,,, bagusnya yg mersah kan dan mem
Media adalah iklan gratis bagi video porno ini wajib ditindak juga... karena sudah mengiklankan secara gratis dan menarik orang agar mencari dan menonton... implikasinya jauh lebih besar dari videonya itu sendiri
ya...........smuanya jangan terlalu diexpose,hormati juga privasi seseorang.pihak kepolisian saja memberi praduga tidak bersalah,akan tetapi media malah menghujat dengan kejamnya
Menurut q yg membuat masalah ini ampe heboh bgt ya media. Payah...demi keuntungan diri sndr selalu kebebasan pers yg dipake sbg senjata. Gara2 media yg selalu memberitakan belum lg ditambah narasi yg "hiperbola" bikin anak2 SD ato yg blm cukup umur jd iku
setuju ma yl..media ni kye seneng bgt mnari diatas pnderitaan aril,,egois bgt hny demi rating en materi,,cape deh,,gitu kok mrasa dah lbh baik dr aril??
Seharusnya pers juga 'ikut mencerdaskan kehidupan bangsa' dan bukan bukannya memberitakan secara tendensius secara bahasa dan cara pemberitaan meskipun mungkin berita itu benar. Bukankah hukum kita menganut 'praduga tak bersalah'? Tapi dari menkominfo, sa