VIVAnews - Rekonstruksi penangkapan di markas Jama'ah Anshorut Tauhid (JAT) Jakarta di Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta yang digelar Polri menyeret nama Ustaz Abu Bakar Ba’syir. Namun pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo ini menolak dengan tegas.
Ba'asyir menganggap rekonstruksi itu sebagai fitnah. ”Itu fitnah. Tahu-tahu ada peran saya. Apa hubungannya, saya diperankan orang lain seperti itu. Saya juga heran, kok saya tidak dipanggil jika ada peran saya di situ,” kata Ba’asyir, Sabtu 15 Mei 2010.
Dalam rekonstruksi penangkapan yang dilakukan di Pejaten di markas JAT Jakarta beberapa waktu lalu tampak salah satu pemerannya berkalungkan kertas dengan tulisan Abu Bakar Ba’asyir.
Ba’asyir merasa Polri terlalu mengkait-kaitkan dirinya dengan orang terduga teroris yang ditangkap di Pejaten yang menjalani rekonstruksi tersebut. Lebih dari itu, Ba’asyir juga menolak, dikait-kaitkan dengan teroris mana pun termasuk yang di Aceh.
Meski demikian, Ba’asyir mengakui pernah mengenal para teroris Aceh yang ditangkap Densus 88. ”Ya beberapa saya kenal, seperti Ubaid dan Ziad. Saya kenalnya pas sama-sama di LP Cipinang. Ngakunya sih pernah sekolah di Ngruki, tapi saya sendiri tidak tahu persis, karena waktu itu saya di Malaysia selama 15 tahun,” ungkapnya.
Perkenalan Ba’asyir dengan tersangka teroris saat menghuni LP Cipinang hanya sebatas perkenalan biasa, layaknya sesama penghuni LP. ”Ubaid yang saya kenal itu justru saat di LP Cipinang kerjanya itu hanya menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab ke bahasa Indonesia,” kata Ba’asyir.
Dengan adanya fitnah dalam rekonstruksi tersebut, Ba’asyir mendesak Kapolri Bambang Hendarso Danuri untuk mengklarifikasi namanya.(umi)
Laporan: Fajar Sodiq | Solo