Nasional

Hatcher, Pemburu Harta yang Bikin Syok China

Hatcher pernah memerintahkan anak buahnya memecahkan 600.000 porselen. Demi harga tinggi.

Rabu, 5 Mei 2010, 02:11 WIB
Elin Yunita Kristanti
'Pemburu' harta karun, Michael Hatcher (www.china.org.cn)

VIVAnews - Pemburu harta karun, Michael Hatcher kini jadi buruan polisi. Pria 70 tahun ini dianggap telah mencuri pundi-pundi harta yang ada di dasar laut Indonesia. Kini, dia dicegah keluar dari Indonesia.

Ternyata, sosok kontroversial Hatcher tak hanya tenar di Indonesia. Dia juga pernah membuat pemerintah China syok. Bahkan, bagi dunia arkeologi bawah laut China, nama Michael Hatcher berarti bencana.

Seperti dimuat laman berita China.org.cn, perseteruan Hatcher dengan China dimulai ketika pria Australia itu menemukan Kapal Geldermalsten di Kepulauan Riau pada Mei 1985.

Geldermasten adalah kapal buatan 1746 milik perusahaan dagang Belanda, VOC yang mengarungi rute Guandong dan Belanda. Selain memuat teh berharga, kapal itu juga memuat emas dan porselen berkualitas tinggi. Pada 1752, kapal tersebut tenggelam.

Hatcher berhasil mengangkat emas dalam jumlah banyak dari kapal tersebut dan lebih dari 150.000 porselen.

Namun, pemerintah China dibuat syok, ketika mengetahui harta itu dilelang di balai lelang Cristie, Amsterdam. Pemerintah China tak punya daya untuk mengambil kembali harta nenek moyangnya itu.

Iklan penjualan harta karun Geldermalsten oleh Balai Lelang Christie

Setelah tragedi Geldermasten, pemerintah China membentuk tim arkeologi untuk melacak dan menyelamatkan harta karun sebelum keduluan para pemburu harta seperti Hatcher.

"Meski kami tujuannya sama, untuk menemukan harta karun, ada perbedaan esensial antara arkeolog dan pemburu harta. Arkeolog menemukan untuk menjaga harta itu, sementara pemburu harta berusaha mencari keuntungan sebesar mungkin," kata Direktur Pusat Arkeologi Bawah Laut China, Zhang Wei.

Seperti halnya China, Indonesia pun direpotkan. Temuan Hatcher memicu perdebatan dua negara, RI dan Belanda soal siapa yang berhak mendapat bagian dari harta karun itu. Belanda yang merasa sebagai pewaris mengajukan dalil, kapal Geldermalsen ditemukan di perairan internasional. Indonesia kalah telak dan tidak mendapat satu senpun.

Belajar dari kasus itu, pemerintah lalu membentuk Panitia Nasional Barang Berharga Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) untuk menghindari penjarahan harta karun.

***

Apa yang dikatakan Zhang Wei, bahwa pemburu harta bekerja untuk cari untung,  terbukti. Pada 1999, Hatcher menyewa beberapa ahli arkeologi untuk mempelajari arsip-arsip VOC. Kemudian, secara kebetulan, dia menemukan catatan tentang kapal Tek Sing, yang tenggelam pada 1822 di Laut China Selatan, wilayah Indonesia.

Tragedi kapal Tek Sing lebih banyak makan korban jiwa dibandingkan tenggelamnya kapal Titanic. Kapal itu lantas dikenal sebagai 'Oriental Titanic'.

Kapal sepanjang 50 meter dan lebar 10 meter tenggelam ketika mengangkut ribuan ton barang yang terdiri dari lebih dari sejuta porselen berkualitas tinggi buatan Jingdezhen.

Selain itu juga ditemukan porselen buatan masa kekaisaran Kangxi (1662-1722).

Temuan hampir sejuta porselen sangat mengejutkan. Lebih mengejutkan lagi ketika Hatcher memerintahkan anak buahnya untuk menghancurkan sekitar 600.000 porselen, hanya sekitar 365.000 yang dipertahankan.

Itu dilakukan demi meraup banyak untung. Sebab, makin langka barang makin tinggi harganya. Benar saja, dalam sembilan hari pelelangan, Hatcher meraup uang sebesar Us$ 30 juta.

Kini nama Hatcher kembali tenar sebagai penjarah harta karun.

Dia diduga berada di perairan Blanakan, Subang. Diperkirakan, dia baru saja menemukan harta karun dari Dinasti Ming yang tenggelam di perairan itu. Nilainya diperkirakan lebih dari US$ 200 juta. Jika berhasil diangkat, ini pencapaian tertinggi Hatcher sebagai pemburu harta karun.

Hatcher, yang dibesarkan di sebuah panti asuhan bahasa Inggris, mendirikan perusahaan penyelamat kapal pada 1970. Asalnya dia mencari barang-barang peninggalan Perang Dunia II, mengumpulkan timah, karet, dan besi bekas.

Setelah menemukan harta karun di kapal tua yang tenggelam, dia lalu banting setir. Kini dia fokus mencari harta di bangkai kapal tua. (umi)

• VIVAnews
Rating
Komentar
Nabillah M
06/05/2010
Kalau sudah terjadi baru deh seperti kakek kebakaran jenggot. Biasa ikut latah......anget-anget tahi ayam - perlahan tapi pasti ......redup dengan sendirinya.
Balas   • Laporkan
SIAHAAN
06/05/2010
SAYA RASA SMUA BERHAK ...............! KLU BUKAN ORANG SPERTI DIA BAGAI MANA SEJARAH TERUNGGKAP?
Balas   • Laporkan
boorjoich
06/05/2010
wkwkwk.. giliran dh didapat ma orang lain br ngaku2 direpotkan... klo memang merasa punya hak disitu knp gk dr dulu di explorasi dari dulu.....................???????????
Balas   • Laporkan
arif hamid kembara
06/05/2010
salam.... saya waga lampung utara,,,ingin berbagi informasi,, di daerah lampung barat kurang lebih 50 km dari tempat saya, terdapat sebuah bukit yang konon katanya dulu pernah di pakai oleh tentara jepang sebagai tempat landasan udara,,diperkirakan di si
Balas   • Laporkan
Abraham Lengkong
06/05/2010
Kalo mau mencari sejarah mengenai kapal-kapal VOC yang Karam di Perairan Indonesia seharusnya pemerintah RI menugaskan KBRI Indonesia yang ada di Den Haag untuk mempelajari document-document VOC yang ada di Museum Belanda, salah satunya RIJKS Museum yang
Balas   • Laporkan
leni
05/05/2010
itulah pintarnya orang luar,kita terlalu banyak tidurrr???
Balas   • Laporkan
adi
05/05/2010
biarin ajalah.....daripada habis kemakan air laut mendingan diambil sama dia, iya kan............?
Balas   • Laporkan
jeprut
05/05/2010
barang berharga seperti tu tdk dpt d nilai dgn mata uang manapun, lbh baik d simpan tuk d jadikan pelajaran d bukti sejarah...... sungguh ironis sekali.
Balas   • Laporkan
dwi
05/05/2010
wah, enak juga ya? gak usah kerja susah2 dapet harta banyak, hehehe...
Balas   • Laporkan
fahlevi
05/05/2010
Benar apa yang teman-teman katakan ( farhan, levi, goeng ) kita baru berteriak kalo udah ada orang lain yang mengambilnya. Kenapa kalo emang sudah tahu ada harta karunnya tidak dilacak kebenarannya. Jangan kalo orang negara lain sudah mengekploitasi kita
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ