VIVAnews - Belum adanya kepastian harga keekonomian dan insentif pemerintah untuk sektor ketenagalistrikan menyebabkan pengusaha berpikir dua kali berinvestasi di sektor tersebut.
"Sekarang pengusaha lebih berminat investasi di bursa maupun sektor perkebunan," ujar Presiden Direktur Bakrie Power Ali Herman Ibrahim di Jakarta, Rabu, 24 Maret 2010.
Menurut dia, meskipun ada pengusaha yang berminat investasi di sektor ketenagalistrikan karena terpaksa. Dia membandingkan dengan Korea Selatan yang hanya berpenduduk 50 juta, investasi sektor kelistrikan masih kalah jauh.
"Konsumsi listrik di Indonesia hanya sebesar 550 kwh perkapita dengan daya terpasang listrik sebesar 30.080 mw. Sedangkan Korea konsumsi listriknya sebesar 8.100 kwh perkapita dengan daya terpasang sebesar 73.470 mw," tutur dia.
Ali meminta kepada pemerintah untuk mengkaji ulang soal peraturan yang mendukung sektor kelistrikan, terutama soal harga patokan listrik.
Terkait dengan itu, Ali juga menjelaskan akibat belum rampungnya negosiasi jual beli listrik (Power Purchase Aggrement/PPA) dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN persero) membuat pengoperasian Pembangkit Tenaga Listrik Uap (PLTU) Tanjung Jati A molor dari rencana 2014 menjadi 2016. "Kita tetap minta harga US$6,8 sen per kwh," kata dia.
antique.putra@vivanews.com