VIVAnews – Jusuf Kalla masuk bursa calon ketua umum Nadhatul Ulama (NU). Mantan Wakil Presiden Indonesia itu, diusung oleh pengurus organisasi ini dari sejumlah daerah, terutama kawasan Indonesia timur.
Apa pantas Jusuf Kalla dicalonkan untuk posisi organisasi keagamaan seperti itu? Menurut mereka yang mendukung, sosok JK sangat pantas. “Beliau adalah tokoh NU yang turun-temurun membangun NU di Sulawesi,” kata Ketua Dewan Tanfidz NU Sulawesi Tengah, Abdullah Latopada.
Dan nama Jusuf Kalla-- walau belum sekuat kandidat lain seperti Slamet Effendi Yusuf, Masdar Farid Mas`udi, Salahuddin Wahid dan Ahmad Bagja—“Bisa berkibar jika sokongan dari bawah cukup kuat.”
Apalagi, lanjut Abdullah, lelaki kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan itu, 15 Mei 1942 itu pernah menjadi pengurus NU dan hingga kini ikut membesarkan NU Sulawesi Selatan.
Muktamar ini akan dibuka Selasa, 23 Maret 2010 di Makasar Sulawesi Selatan. Sejumlah pengurus daerah sudah berangkat kota anging mamiri itu. Sepuluh pengurus cabang se Sulawesi Tenggara yang dikoordinasi Abdullah Latopada sudah bergegas hari ini.
Jusuf Kalla sendiri mengaku tidak pernah berniat menjadi ketua organisasi yang didirikan kakek mendiang Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu. Kalla menegaskan bahwa dirinya cuma seorang umarah biasa, bukan umarah yang hebat apalagi seorang ulama.
“Saya tahu diri, itu wilayah para ulama,” kata Jusuf Kalla kepada Wens Manggut dari VIVAnews yang menghubunginya via telepon seluler sore ini.
Yang pantas menjadi ketua NU itu, kata Jusuf Kalla, haruslah orang yang mengerti betul tentang agama Islam dan seluruh ajarannya. “Dan itu bukan wilayah saya, saya hanya sekedar membantu saja lah” lanjutnya. Dia meyakini bahwa banyak sekali kader NU yang memenuhi kriteria itu.
• VIVAnews