VIVAnews - Anak-anak dari para pelaku terorisme yang tewas ditembak Densus 88 harus memperoleh perhatian khusus. Jika tidak diperhatikan, di khawatirkan mereka akan menjadi teroris mengikuti jejak orang tuanya.
Pakar psikologi dan guru besar dari Universitas Indonesia (UI), Sarlito Wirawan mengatakan meski sampai saat ini pihaknya belum memiliki riset penelitian, dari pengalaman anak yang orangtuanya terlibat PKI, banyak yang banyak yang secara psikologi bermasalah.
“Ini banyak sekali. Kemudian mereka (anak-anak PKI) sekarang ini menjadi orang biasa dan jumlahnya mencapai ribuan,” kata dia kepada VIVAnews seusai Konggres Himpunan Psikologi Indonesia di Hotel The Sunan Solo, Sabtu, 20 Maret 2010.
Oleh sebab itu, lanjut dia, anak-anak yang orang tuanya terlibat terorisme harus segera ditangani. “Sekarang kan mereka dibiarkan saja. Harus ada upaya khusus untuk menangani mereka yang dilakukan oleh Lapas, Depsos, Depdiknas dan LSM, atau whatever-lah untuk menangani pendidikan mereka, juga membangkitkan kondisi psikologisnya," tegas Sarlito.
Menurut Sarlito, ke depan hendaknya dalam kasus pemberantasan teroris, aparat tidak main tembak karena akan menambah anak yang terlantar.
Ia lalu menyontohkan bayi dari pasangan Putri Munawaroh dengan Adib Susilo yang tewas saat penggerebekan teroris di Mojosongo, Solo yang terpaksa dilahirkan di penjara. Bayi tersebut akhirnya diasuh di balik jeruji besi.
“Nah dia kan masih anak Lapas. Oleh sebab itu dia harus mendapat perhatian khusus. Saya belum tahu caranya, karena dari kita juga belum ada penelitian," jelasnya.
Laporan: Fajar Sodiq | Solo