VIVAnews - Pengamat militer Hermawan Sulistyo menegaskan, terorisme tidak selalu efektif dihadapi dengan senjata. Ada cara lain yang lebih ampuh menghadapi para teroris.
“Kontraterorisme itu bukan dengan senjata, tapi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, supaya pondok-pondok pesantren di mana pun bisa maju,” tandas Hermawan dalam acara diskusi Trijaya di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu 20 Maret 2010.
Hal itu ia kemukakan menanggapi stigma bahwa pondok-pondok pesantren tertentu menjadi ruang bagi tumbuh kembang terorisme di tanah air. Padahal, tegasnya, hal itu tidaklah benar. Solusi untuk mengenyahkan stigma macam itu, menurutnya, adalah dengan menyebarkan kemajuan iptek ke pesantren-pesantren, sehingga pondok pesantren tidak menjadi tempat yang tertutup dan menimbulkan kecurigaan pihak luar yang tidak mengerti seluk-beluk dunia pesantren.
“Pondok pesantren kini harus menjadi tempat yang terbuka dan tidak eksklusif,” ujar Hermawan. Ia mencontohkan, ia sendiri memiliki pondok pesantren yang dilengkapi dengan guest house untuk menerima tamu-tamu yang berasal dari luar pondokan, termasuk tamu asing dan turis yang berasal dari luar negeri.
“Seharusnya, kerjasama kontraterorisme macam inilah yang didorong dan dikembangkan, bukan dengan mengirim bantuan senjata bagi militer saja,” kata Hermawan.
Ketua MUI, Amidhan, juga meminta agar terorisme tidak dikaitkan dengan agama, karena Islam bukanlah teroris. Ia mengatakan, di Indonesia bukan hanya teroris saja yang beragama Islam, melainkan juga para koruptor dan pencuri. “Jadi, jangan kaitkan kejahatan dengan Islam. Teroris di Indonesia beragama Islam karena Islam memang agama terbesar di sini,” jelasnya.
“Pesantren di Indonesia juga jangan selalu dituding sebagai sumber teroris,” ujar Amidhan senada dengan Hermawan. Ia menekankan, terorisme dan bom bunuh diri adalah haram hukumnya dalam Islam.