VIVAnews -- Jaringan teroris memilih Nangroe Aceh Darussalam sebagai markas untuk latihan. Bahkan, mereka ingin menjadikan Aceh sebagai Qoidah Aminah, yakni wilayah tempat hijrah atau basis perjuangan untuk menciptakan negara Islam Indonesia, dan Daulah Islam Asia Tenggara.
"Mereka ingin Aceh ini bisa dijadikan tempat hijrah atau menjadi basis perjuangan untuk menciptakan negara Islam Indonesia dan Daulah Islam Asia Tenggara," kata Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Edward Aritonang di Jakarta, Kamis 18 Februari 2010.
Keterangan Polri dari seorang teroris yang tertangkap, yaitu Uztadz Ubaid menyebutkan kegiatan di Aceh bentuknya berbeda dengan kegiatan yang selama ini dilakukan oleh Dr. Azahari dan Noordin M Top dengan melakukan pengeboman diberbagai tempat di Indonesia.
Selain itu dari keterangan teroris yang tertangkap diperoleh keterangan bahwa sang pimpinan teroris, Abu Yusuf alias Mustaqim telah memerintahkan para anggotanya untuk turun ke desa-desa, guna memberikan pembinaan kepada masyarakat agar dapat tercipta tempat persembunyian yang sepenuhnya mendukung program kelompok ini.
Dari Kelompok teroris Aceh, polri telah menetapkan 31 orang sebagai DPO. Polisi juga berhasil menangkap 40 orang dalam penggerebekan yangdilakukan di beberapa daerah, tujuh diantaranya ditangkap dalam keadaan tewas.
Tujuh teroris yang tewas itu adalah Iwan Suka Abdulah, Marzuki, Ridwan, Hasan Nur, Jaja alias Pura Sudarma, Ardi alias Enceng Kurnia, dan salah satu pentolan teroris paling dicari Dulmatin.