VIVAnews - Tewasnya dua gembong teroris, Noordin M Top dan Dulmatin tidak menghilangkan ancaman teroris. Menurut polisi, pimpinan kelompok readikal ini terus berganti.
"Saptono alias Pak Tuo, adik Jaja alias Pura Sudarma alias Slamet asal Bandung memili potensi sangat tinggi untuk memimpin aksi dari kelompok radikal bersenjata ini," kata Juru Bicara Polri, Inspektur Jenderal Inspektur Jenderal Edward Aritonang, Kamis 18 Maret 2010.
"Karena saat terjadi penangkapan di Gunung Jantho posisi Saptono tidak sedang berada di hutan tempat latihan," kata Edward.
Saptono, lanjut dia, sempat meloloskan diri dari penggerebekan Densus 88. "Penangkapan dengan melarikan diri dari posisinya saat itu yaitu di ma'tab atau posko di Kota Banda Aceh," jelas dia.
Saptono dikenal sebagai instruktur di kamp pelatihan militer yang dibentuk Rois di Gunung Peti, Cisolok, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat.
Edward menambahkan, Polri menduga pelatih dari kalangan teroris, Ustad Abu Yusuf alias Mustaqim sedang dalam keadaan terluka tangannya akibat penembakan.
"Dari hasil mengsinergikan analisis kegiatan human intelijen dan tekno intelijen terutama analisis komunikasi IT, diduga kuat pimpinan latihan yaitu Ustad Abu Yusuf alias Mustaqim sedang terluka di bagian tangan akibat tertembak Polri pada 4 Maret 2010 lalu," kata Edward.
Saat ini, kata dia, kelompok Mustaqim didukung proteksi senjat api dan amunisi yang cukup untuk mengamankan pelarian di dalam Kota Banda Aceh.
Dari kelompok Aceh, Polri menetapkan 71 tersangka, 31 orang dinyatakan DPO, 40 ditangkap, 7 diantaranya tewas -- termasuk gembong teroris, Dulmatin.