Nasional
Wakil Presiden Boediono

Pemerintah Dunia Lambat Atasi Masalah Iklim

Boediono mengkhawatirkan masa berlaku Protokol Kyoto pada tahun 2012.

Kamis, 18 Maret 2010, 14:12 WIB
Ita Lismawati F. Malau, Bayu Galih
Hatta Rajasa berbicara dengan Boediono (Antara/ Prasetyo Utomo)

VIVAnews - Wakil Presiden Boediono mengungkapkan kekecewaan terhadap pemerintahan-pemerintahan dunia dalam mengatasi permasalahan perubahan iklim global. Pemerintahan dunia dinilai lamban dan tidak memiliki kejelasan dalam mengatasi permasalahan yang mengancam eksistensi manusia.

Hal ini dikatakan Boediono saat membuka International Climate Change Workshop on Research Priorities and Policy Development di Istana Wapres, 18 Maret 2010. Ini merupakan workshop yang digelar oleh Universitas Indonesia bersama Association of Pacific Rim University-World Institute (APRU-WI).

"Masalah yang memiliki dampak serius untuk kita, kehidupan, dan bahkan eksistensi kita sebagai manusia," kata Boediono dalam sambutan yang disampaikan dalam Bahasa Inggris.
 
Boediono menjelaskan, selama lebih dari 20 tahun pemerintahan di dunia memulai kesepakatan untuk menghadapi masalah perubahan iklim. Hingga kemudian terbentuk United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) untuk mengatasi masalah global sejak Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil pada tahun 1992.

Kerjasama antarnegara kemudian terus berlanjut hingga dirumuskannya Protokol Kyoto, untuk mengurangi emisi gas rumah kaca pada tahun 1997. Namun Protokol Kyoto baru berlaku pada 16 Februari 2005.

"(Protokol Kyoto) itu tidak cukup dan juga tidak didukung sepenuhnya untuk mengatasi masalah yang muncul di masa mendatang. Namun setidaknya sudah ada kerangka tentatif untuk mengatasi masalah ini yang dilakukan oleh pemerintahan dunia," ucap Boediono.
 
Selanjutnya, Boediono juga mengkhawatirkan masa berlaku Protokol Kyoto pada tahun 2012, dan belum ada kesepakatan sejenis untuk menggantikannya. Konferensi Lingkungan di Kopenhagen juga dianggap gagal mencapai hasil yang diharapkan.

"Karena berbagai alasan itulah, terlepas dari hasil substansif dan rekomendasi yang diberikan, saya berharap workshop (International Climate Change Workshop on Research Priorities and Policy Development) ini dapat menghasilkan sesuatu. Juga dapat memperkuat tekad kita untuk mengatasi permasalahan perubahan iklim," ungkap Boediono.

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ