VIVAnews - Kawanan teroris poros Aceh-Pamulang melancarkan strategi baru dalam serangan-serangan yang mereka rencanakan. Kalau sebelumnya, bom jadi andalan mereka, kini tidak lagi.
Betulkah targetnya bukan orang asing lagi tapi yang ideologinya berseberangan?
"Tidak seperti itu, dari hasil perkembangan juga apa yang saya sampaikan kemarin itum, bahwa seperti Dulmatin sudah memerintahkan kepada saksi yang kita tangkap hidup, bahwa memang ada perintah fa'i," kata Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Rabu 17 Maret 2010.
Fa'i itu, kata Kapolri, adanya serangan dengan kekerasan-kekerasan kepada sasaran tertentu. Memang tidak jauh berbeda dengan pola sebelumnya, namun sasaran mereka sekarang lebih fokus. "Ada perubahan dari mereka. Perubahan pada sasaran yang akan mereka lakukan," kata dia.
Sasaran itu bukan orang-orang yang dianggap bersebarangan. "Tapi yang dinilai mereka 'seolah-olah mereka itu kaya kita-kita ini', apakah Polri, TNI, aaau aparat pemerintah. Itu dianggap taugut. Itu sah kalau dijadikan sasaran mereka," kata Kapolri.
Informasi ini diperoleh dari kelompok teroris yang tertangkap.
Apakah Istana salah satu sasaran mereka? Kapolri membantahnya. "Tidak, tidak seperti itu. Tidak secara spesifik seperti itu," katanya.
Kapolri juga menolak menjawab saat ditanya apakah sudah ada indikasi tokoh-tokoh yang diincar teroris. "Saya rasa sudah cukuplah," kelitnya.
Apakah targetnya di pusat pemerintahan? "Tidak kan saya tidak sebutkan target. Tapi yang jelas mereka melakukanrangkaian kegiatan yang memang sudah dengan pola-pola dikembangkan yang berbeda dengan yang lalu," kata Kapolri.
Dalam latihan-latihan, mereka menggunakan gaya militer yang lebih banyak menggunakan persenjataan canggih. "tidak lagi dengan bom. Berarti kan ada pola baru yang akan dikembangkan," kata Kapolri.
Soal ancaman terhadap Presiden, Kapolri mengatakan, akan mengantisipasi segala bentuk kemungkinan yang menjadi target atau sasaran mereka dalam bentuk kegiatan cegah tangkal.
• VIVAnews