Nasional

Cinta Ibunda Obama di Indonesia

Ann Dunham membawa Barack Obama kecil tinggal di lingkungan kumuh selama hampir 4 tahun

Rabu, 17 Maret 2010, 10:11 WIB
Renne R.A Kawilarang, Shinta Eka Puspasari
Barack Obama saat digendong ibunya, Ann Dunham (AP Photo)

VIVAnews - Stanley Ann Dunham Soetoro adalah perempuan pemimpi. Dia lahir di Amerika, tapi hampir separuh hidupnya bertualang di negeri-negeri jauh. Dia juga kerap membuat sejumlah pilihan hidup berisiko.

Dia, misalnya,  menjadi seorang ibu pada usia muda. Mungkin karena dia seorang antropolog, Ann tampaknya menyukai keragaman manusia. Dia pernah bekerja bagi pengembangan ekonomi pedesaandi Indonesia. Dan, sampai ajalnya tiba, Ann mungkin tak pernah membayangkan dia bakal menjadi ibu dari presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat (AS), Barack Obama.

Pada masa mudanya, Ann jatuh cinta dua kali kepada pemuda dari negeri yang asing. Dua pernikahannya gagal. Tapi dia tidak pernah putus asa. Dengan bantuan orang tua dan teman-temannya, Ann membesarkan dua anaknya, Barack Obama dan Maya Soetoro.

Ann lahir di Fort Leavenworth, Kansas, pada 29 November 1942 dari pasangan Madelyn dan Stanley Dunham. Ayahnya, Stanley adalah veteran perang dan lalu hidup sebagai penjual meubel. Ibu Ann, Madelyn, adalah perempuan pertama yang menjabat wakil presiden bank lokal.

Nama pertama Ann, Stanley, diambil dari nama ayahnya yang selalu menginginkan seorang putra. Keluarga Dunham tinggal berpindah-pindah dari Kansas, California, Texas, dan Washington. Setelah Ann lulus sekolah menengah, dia dan keluarganya pindah ke Honolulu, Hawaii.

Laman Biography.com mencatat bahwa Ann melanjutkan studi di University of Hawaii. Di sebuah kelas bahasa Rusia, Ann bertemu pria penerima beasiswa asal Kenya, Barack Obama. Tanpa menghiraukan ras atau warna kulit, mereka mulai berkencan.

Ann dan Obama menikah pada 2 Februari 1961. Sekitar enam bulan kemudian, dia melahirkan Barack Obama Jr. Ketika Obama Sr. mendapat beasiswa doktoral di Harvard, Ann memutuskan tetap tinggal di Hawaii. Pada 1964, Ann mengajukan permohonan bercerai yang disetujui Obama Sr. Tanpa syarat.

Sekitar setahun kemudian, Ann kembali belajar di University of Hawaii. Dengan bantuan orangtua dan kupon makan dari pemerintah, Ann berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu empat tahun. Selama kuliah, Ann menjalin hubungan dengan mahasiswa asal Indonesia, Lolo Soetoro yang melamarnya pada 1967.

Kondisi politik di Indonesia membuat pemerintah memanggil seluruh pemuda yang belajar di luar negeri, tak terkecuali Lolo. Keluarga kecil Ann, Barack, dan Lolo pun bersiap-siap pulang ke Indonesia.

Setelah perjalanan panjang, akhirnya mereka tiba di Jakarta. "Saat keluar dari pesawat, saya bisa merasakan panas matahari. Saya memegang tangan ibu saya, berniat untuk melindunginya," ujar Barack di kemudian hari seperti dikutip laman majalah Time.

Rumah Lolo di pinggir Jakarta sangat berbeda dengan Honolulu. Listrik belum terpasang, jalanan belum diaspal. Indonesia masih berada dalam masa transisi dari pemerintahan Soekarno ke Soeharto. Tingkat inflasi meningkat hingga 600 persen.

Ann dan Barack merupakan orang asing pertama yang tinggal di daerah itu. Untuk mendapat teman, Barack kerap duduk di pagar dan mengepakkan tangannya seperti sayap burung. "Itu membuat anak-anak yang lain tertawa, kemudian mereka bermain bersama Barack," kata seorang teman, Kay Ikranagara.

Setiap harinya, Ann semakin mencintai Indonesia, sementara Lolo justru condong ke Barat. Karir Lolo di sebuah perusahaan minyak asal AS terus menanjak. Mereka pun pindah ke lingkungan yang lebih baik.

Namun Ann bosan dengan basa-basi dalam pertemuan-pertemuan resmi dengan kolega Lolo. Dia lalu bekerja mengajar bahasa Inggris di Kedutaan AS. Sebelum pergi mengajar, Ann memberi pendidikan bahasa Inggris kepada Barack. Malam harinya, dia akan membacakan buku mengenai hak warga sipil dengan diiringi lagu gospel Mahalia Jackson.

"Ibu saya benar-benar generasi Martin Luther King, dia percaya semua orang sama. Apa pun warna kulitnya," ujar Barack.

Ann bahkan memberi putrinya, Maya yang lahir pada 1970, boneka dengan beragam ras seperti Inuit, Sacagawea, hingga Belanda. "Koleksi boneka saya seperti anggota Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB)," tutur Maya.

Ketika Obama berusia sepuluh tahun, Ann mengirimnya ke Hawaii. Setahun kemudian, Ann dan Maya menyusul. Ann lalu mendaftar mengikuti program master jurusan antropologi kultural masyarakat Indonesia di University of Hawaii. Pada 1980, Ann mengajukan cerai kepada Lolo.

Untuk menyelesaikan kuliah, Ann kembali ke Indonesia untuk melakukan penelitian. Dia bergabung dengan Ford Foundation untuk mempelajari masalah pekerja perempuan.

Mulai 1988 hingga 1992, Ann adalah bagian dari tim yang merancang program pembiayaan dan pinjaman bagi pengusaha mikro dan kecil.  "Riset antropologis Ann membantu tim tersebut mendapat informasi untuk membuat kebijakan yang disusun Bank Rakyat Indonesia ," kata ekonom BRI, Richard Patten.

Disertasinya berjudul "Peasant Blacksmithing in Indonesia: Surviving Against All Odds". Penelitian itu hampir setebal seribu halaman. Ada glosari 24 halaman. Itu pun, oleh Ann, disebut "jauh dari lengkap". Setelah menyabet gelar doktor, dia kembali bekerja sebagai konsultan Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk urusan mikrokredit.

Lembaga Microfinance Information Exchange mencatat saat ini, program pembiayaan mikro di Indonesia adalah yang tersukses di dunia dengan 31 juta anggota. "Saya rasa penelitiannya merupakan faktor utama kesuksesan program itu," ujar Patten.

Selama bertahun-tahun, Ann dan Maya berpindah-pindah dari Pakistan, New York, dan Hawaii untuk bekerja.

Menjelang akhir 1994, Ann mengeluh sakit perut ketika sedang makan malam di rumah Patten di Jakarta. Dokter menduga Ann mengalami kesalahan pencernaan. Namun saat dia kembali ke Hawaii, dokter menyatakan Ann mengidap kanker uterus.

Dia meninggal dunia pada 7 November 1995.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
norman therun
23/03/2010
Jiwa besar dan kasih sayang seorang Ann Dunham ternyata telah menggetarkan langit dan melahirkan sejarah BESAR dan dunia tidak akan pernah sama lagi. God bless you Mama Ann. Kami bangga Anda dan anak Anda pernah tinggal di bumi Indonesia.
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ