VIVAnews - Terdakwa kasus terorisme Saefudin Zuhri menghadapi tuntutan. Tuntutan terhadap anak buah gembong teroris Noordin M Top itu pernah ditunda karena jaksa penuntut umum belum siap.
Rencananya, hari ini tuntutan Saefudin Zuhri akan dibacakan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu 17 Maret 2010.
Saefudin didakwa melanggar pasal 15 Juncto pasal 7, pasal 9, dan pasal 13 undang-undang 15 tahun 2003 tentang tindak pidana terorisme.
Pada persidangan sebelumnya, jaksa menyatakan belum siap membacakan tuntutan atas Saefudin Zuhri. Jaksa beralasan pihaknya masih menanggani kasus terorisme lainnya.
"Jadi surat tuntutan atas Saefudin Zuhri harus menunggu kasus-kasus lain," kata Jaksa Ferry dalam sidang sebelumnya.
Saefudin alias Tsabit sendiri mempunyai peran penting dalam kasus terorisme di Indonesia. Dalam dakwaan disebutkan menyembunyikan terpidana terorisme di Palembang.
Terpidana teroris Palembang yang disembunyikan Zuhri antara lain Fajar Taslim, yang sudah divonis 20 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Atas vonis itu baik jaksa maupun Fajar Taslim tidak mengajukan banding.
Salah satu saksi, Abdurrahman Taib, yang juga salah satu terpidana jaringan teroris Palembang, mengaku Zuhri mengetahui adanya pengiriman bahan peledak ke Palembang.
Selain itu, kerabat Noordin M Top ini juga dinilai mengetahui keberadaan senjata yang digunakan untuk membunuh Pendeta Dagi Simamora di Palembang.
Dijelaskan Taib, dirinya pernah datang ke Kroya, Jawa Tengah untuk bertemu dengan Aji. Pada waktu itu, Taib menginap di sebuah rumah kosong. "Dia [Saefudin Zuhri] mengantar saya ke rumah itu," kata Taib.
Di rumah itu, Taib mengaku diberi sepucuk pistol beserta enam peluru di dalamnya dan sebelas peluru lagi sebagai cadangan oleh Noordin M Top. Selanjutnya, pistol itu diserahkan kepada Fajar Taslim [jaringan Palembang]. Pistol itu digunakan untuk membunuh Pendeta Dago Simamora.
Selain sepucuk pistol, Taib juga diberi 20 kg Potasium Klorat sebagai bahan peledak. Potasium ini dia bawa dari Kroya ke Palembang dengan menumpang bus Handoyo.
Potasium ini kemudian diracik menjadi sekitar 24 bom. Rencananya, kata Taib, bom ini salah satunya akan digunakan untuk meledakkan Kafe Bedudel di Bukit Tinggi pada 2007. "Namun rencana itu batal karena di sana (Kafe Bedudel) banyak terdapat akhwat (kaum wanita)," kata dia.
ismoko.widjaya@vivanews.com