VIVAnews - Menyambut hari raya Nyepi tahun Saka 1932, seluruh umat Hindu Bali menggelar upacara Tawur Agung Kesanga sebagai salah satu rentetan upacara menjelang Nyepi. Upacara ini dipusatkan lapangan Puputan Badung – Denpasar, dengan mempersembahkan berbagai macam jenis hewan ternak.
Tawur Agung Kesanga pada tahun ini dipimpinn enam sulinggih pandita (Pendeta), yang diambil dari Siwa bernama Ida Pandita Gde Telaga, dari Budha bernama Ida Pandita Gde Jelantik Giri Puspa, dari Bujangga bernama Ida Resi Pujangga, dari Sri Empu bernama Ida Pandita Empu Daykala, dari Dukuh bernama Ida Dukuh Udalaka Dharma, dan dari Pande bernama Ida Pandita Pande Chandra Giri.
Kepala seksi urusan Agama Hindu Departemen Agama kota Denpasar, I Gusti Ketut Mudiana menjelaskan Tawur Agung bermakna sebagai upacara pembersihan alam buana atau bumi sebelum melaksanakan hari raya Nyepi.
“Upacara ini untuk pembersihan bumi, dengan mempersembahkan hewan kurban, yakni kerbau putih, sapi, anak babi hitam, bebek, ayam, dan anjing belang bukem (anjing belang warna coklat, hitam dan putih),” jelasnya, Senin 15 Maret 2010.
Selain dilakukan di kota Denpasar, di Kota dan Kabupaten lainnya di Bali juga melaksanakan upacara serupa. Usai upacara, ribuan umat Hindu ini berebut Tirta atau air suci, yang akan digunakan oleh umat untuk menyucikan rumahnya dengan memercikannya ke seluruh area rumah sebelum Nyepi tiba.
Laporan : Peni Widarti | Bali