Nasional

7 Anak Hilang, Keluarga Hidup dalam Pasungan

Konon penyakit itu sudah menjadi turun temurun.

Jum'at, 12 Maret 2010, 10:29 WIB
Amril Amarullah
Katijan (berdiri) dan ibunya, Srigati dipasung di samping rumah (Tri Iwan Widhianto | Surabaya Post)

SURABAYA POST - Ichwanudin, warga RT 2/RW II Dusun Jempor, Desa, Bangsri, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar selama ini hanya bisa pasrah di tempat tidur karena kondisinya yang sudah sakit-sakitan. Tulang punggung kehidupan keluarga satu-satunya adalah anak laki-lakinya, Katijan (26). Dia setiap hari harus merawat adik, bapak dan ibunya.

“Tiga tahun lalu keluaga Pak Ichwanudin baik-baik saja. Anaknya sembilan orang dan sudah menetap di mana-mana dan tidak diketahui keberadaannya. Hanya Katijan saja yang tinggal serumah dengan orang tuanya bersama adiknya (Srigati),” kata Sulasini, tetangganya.

Selama keluarga Ichwanudin sakit, kebutuhan hidup sehari-hari, sepertinya tidak ada masalah, semua tercukupi oleh kebaikan masyarakat desa.

Para tetangga tidak tahu penyebab keluarga tersebut sakit jiwa. Ada yang menyebut, kejadian yang menimpa keluarga Ichwanudin itu penyakit turunan. “Awalnya, Sutiani (istri Ichwanudin) mulai terlihat gejala sakit jiwa dengan berteriak-teriak tanpa sebab,” terang Sulasini.

Keadaan Sutiani berangsur pulih namun kambuh lagi dan sering berteriak-teriak. Beberapa bulan kemudian anaknya Srigati—yang telah menikah dengan Awi dan beranak dua— juga menunjukkan gejala yang sama. Bedanya, Srigati sering tidak memakai baju dan suka mengambil buah milik tetangga, serta bernyanyi-nyanyi,” terangnya.

Sebelumnya, suami Srigati, Awi, pernah tinggal serumah dengan mertuanya. Tapi karena tidak tahan dengan sikap dan sifat Sutiani dan Srigati, Awi tinggal di rumahnya sendiri di Ngancar, Kabupaten Kediri.

“Mungkin Awi tidak tahan di rumah itu setelah kematian anak keduanya, Budi dan kelakuan istrinya menjadi berubah seperti ibunya. Dia juga sering kumat-kumatan,” kata Imam Badlowi (40), tetangga Ichwanudin lainnya,
“Awi pernah bercerita ke saya bahwa kondisi ekonomi keluarga Ichwanudin semakin terpuruk, terutama saat saudara Ichwanudin mulai memperebutkan harta warisan, berupa tanah yang memang luas di dusunnya.

“Awi juga mengeluh atas tuntutan (ekonomi) istri dan keluarganya harus dipenuhi. Awi yang bekerja di bengkel akhirnya tidak sanggup dan pulang ke rumahnya,” terangnya.

“Kami sudah empat kali membawa Sutiani ke Rumah Sakit Jiwa Porong beserta anaknya (Srigati). Namun setelah diperiksa, kondisi jiwanya tidak gila,” kata Kepala Desa Bangsri, Nurul Ummuh.

Diperkirakan, sakit yang dialami Sutiani dan Srigati ini kumat-kumatan. Kalau normal bisa diajak bicara, tapi kalau sedang kumat, ya berteriak atau nyanyi-nyanyi hingga telanjang. “Kadang suka mengambil buah-buahan atau merusak tanaman tetangga,” jelas Kades.

Laporan: Tri Iwan Widhianto



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ