Nasional

"Anak Saya Meninggal Karena Demam Berdarah"

Demam berdarah dengue (DBD) yang menjangkiti puluhan warga Probolinggo sejak Januari 2010.

Jum'at, 12 Maret 2010, 09:40 WIB
Amril Amarullah
SRI Handayani memegang foto anaknya, Triamita Alfiani (6) yang meninggal (Ikhsan Mahmudi | Surabaya Post)

SURABAYA POST - MITA, panggilan akrab bocah yang duduk di kelas nol besar TK Taman Indria, Kota Probolinggo itu menghadap Sang Khalik setelah sejak Senin mengidap panas tinggi. Rabu (10/3) ia menghembuskan napas terakhirnya di atas becak dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Anak dan Bersalin (RSAB) Muhammadiyah, Jl. Panglima Sudirman.

”Saat itu becak yang saya tumpangi bersama Mita sudah mau menyeberangi jalan menuju RSAB, tidak tahunya Mita sudah ....,” ujar Sri Handayani (35), ibu kandung Mita ditemui di rumahnya Jl. Wahidin, Kota Probolinggo, Kamis (11/3).

Namun Sri tetap membawa masuk anak ketiganya itu ke RSAB. Meski perawat sudah memberikan pertolongan oksigen, Mita tetap terkulai. Dengan perasaan sedih, Sri kembali naik becak membawa anaknya pulang. ”Karena sejumlah kerabat dan tetangga mengatakan anak saya belum meninggal, Mita kemudian saya larikan ke RSUD,” ujarnya.

Dokter UGD di RSUD Dr Moch. Saleh, Kota Probolinggo yang memeriksa Mita menyatakan, bocah lucu itu baru saja meninggal dunia. Meski dalam kesedihan mendalam, Sri mengaku pasrah dengan kepergian anak perempuannya itu.

Pada muka jenasah Mita tampak bintik-bintik hitam seperti bekas gigitan nyamuk. ”Saya tidak menyangka kalau anak saya meninggal karena demam berdarah,” ujarnya.

Yang membuat Sri semakin sedih, pemakaman Mita tanpa dihadiri suaminya, Ivan Wijaya (40). ”Kebetulan suami saya sedang pulang ke kampung asalnya di Lampung. Saat saya hubungi melalui HP, katanya sedang di Palembang,” ujarnya.

Tanpa menunggu kedatangan suaminya yang sehari-hari sebagai sopir angkutan kota (angkot) di Kota Probolinggo itu, jenasah Mita akhirnya dikebumikan di pemakaman umum Sukabumi, Jl. Cempaka.

Berobat ke Puskesmas

Sri bercerita, Minggu (7/3) malam usai maghrib, badan anaknya panas tinggi. Keesokan harinya, Senin (8/3) perempuan yang bekerja sebagai buruh di pabrik tekstil dan garmen PT Eratex Djaja, Kota Probolinggo itu membawa Mita ke Puskesmas Sukabumi.

Dokter Elisa Kristina yang memeriksa Mita kemudian memberinya obat Antalgin, Amoxilin, dan Promag. ”Dokter yang memeriksa Mita juga menyarankan anak saya tes darah karena dikhawatirkan terkena DBD,” ujar Sri.

Karena anaknya menangis menjerit-jerit karena takut disuntik (untuk diambil darahnya), Sri langsung membawa pulang Mita. Karena suhu badannya tidak juga turun, Sri membeli Paracetamol untuk diminum anaknya. ”Hari Rabu (10/3) suhu badannya menurun, saya lega. Tetapi karena badannya sangat lemas, akhirnya Mita saya bawa ke RSAB,” ujarnya.

Serangan DBD sejak Januari lalu merebak di Kota Probolinggo. Manajemen RSUD Dr Moch. Saleh mencatat, selama Januari sebanyak 34 pasien dirawat. Februari jumlah pasien yang dirawat meningkat menjadi 40 orang.

”Maret jumlah pasien yang dirawat di RSUD masih belasan,” ujar Direktur RSUD, dr Budi Poerwohadi SpPD.

Laporan: Ikhsan Mahmudi



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ