VIVAnews - Tim Pengacara Muslim (TPM) yang akan memberikan advokasi kepada keluarga Dulmatin menyambut baik kepulangan jenazah lebih awal. Anggota TPM, Budi Kuswanto, menyatakan jenazah sebaiknya dipulangkan sejak awal.
"Jenazah secepatnya dibawa pulang supaya segera dirawat layaknya jenazah seorang muslim," kata dia kepada VIVAnews di Solo, Kamis, 11 Maret 2010.
Prinsipnya, tambah dia bahwa TPM menganjurkan apabila jenazah itu benar-benar Dulmatin agar segera diserahkan kepada keluarga. TPM berharap agar pengalaman yang dulu pernah menimpa salah satu korban penggerebekan teroris di Mojosongo, Noordin M Top, Susilo dan korban lainnya tidak terulang. Jasad mereka membeku karena terlalu lama disimpan di peti es.
"Kita memang berharap jangan lama-lama di rumah sakit seperti halnya kasus jenazah Susilo," ujarnya.
Sampai saat ini jenazah Dulmatin, tersangka teroris di belakang Bom Bali 1 2002, masih terbaring di RS Polri Kramat Jati. Rekannya, Abu Wildan, mengatakan jenazah Dulmatin akan diambil hari ini.
"Rencananya habis maghrib, diambil dan diberangkatkan langsung ke Pemalang melalui jalur darat," kata dia kepada wartawan, di RS Polri, Kamis 11 Maret 2010.
Saat ini, pihak keluarga Dulmatin yang diwakili kakaknya, Azzam Baabud sedang melakukan proses serah terima pengambilan jenazah. Istrinya, Istiadah tidak ikut. Padahal, sebelumnya petugas mengatakan ada seorang perempuan berjilbab yang menjenguk jasad Dulmatin.
"Masih ada yang harus dilengkapi, keterangan kelurahan, tapi itu sudah di-fax," kata Abu Wildan.
Keluarga sudah melihat jenazah yang dikatakan polisi sebagai Dulmatin. "Benar itu Dulmatin," kata dia.
Dulmatin akan dimakamkan di kampung halamannya di Pemalang. Tak ada penolakan dari warga masyarakat. "Warga tidak menolak, saat ini keluarga mempersiapkan penguburan dibantu pihak kelurahan," ujar dia.
Dulmatin tewas dalam penggerebekan di Warnet Multiplus, Pamulang, Selasa 9 Maret 2010. Dia diduga membantu para otak pelaku Bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang.
Dulmatin bukan orang sembarangan di Jamaah Islamiyah. Menurut Kepala Kepolisian, Jenderal Bambang Hendarso Danuri, kemampuan Dulmatin 'genius' dalam merangkai bahan peledak bahkan di atas Dr Azahari -- 'doktor bom'.
Pemerintah Amerika Serikat bahkan menawarkan uang sebesar US$ 10 juta atau setara Rp 93 miliar bagi siapa yang bisa memberikan informasi yang menggiringnya ke tahanan. Amerika Serikat mendeskripsikan Dulmatin sebagai 'spesialis perakit bom yang pernah menjalani pelatihan di kamp Al Qaeda di Afganistan.
Laporan Fajar Sodiq | Solo