VIVAnews - Penggerebakan tersangka teroris di Pamulang Tangerang membuat perwakilan pemerintah Jepang di Bali khawatir. Salah satu korban tewas dalam penggerebakan itu adalah Dulmatin, tersangka teroris kasus bom Bali I tahun 2002.
Untuk menghilangkan kekhawatirannya, sejumlah pejabat konsulat Departemen Luar Negeri Jepang mendatangi markas Polda Bali, Kamis 11 Maret 2010.
“Bali menjadi idola warga Jepang untuk itu perlu perlindungan, dan kami datang memohon bantuan Polda Bali untuk keamanan kami,” ungkap Wakil Direktur Jendral Bagian Konsulat Departemen Luar Negeri Jepang Yamamoto dalam bahasa Jepang, yang diterjemahkan oleh Wakil Konjen Jepang di Bali, Mr. Hirasyma.
Kasus teroris yang masih banyak belum terungkap, membuat pemerintah Jepang khawatir. Kekhawatiran itu dirasakan oleh Pemerintah Jepang, karena sekitar 350.000 orang Jepang datang ke Bali setiap tahunnya, dan ada sekitar 2.000 orang yang menetap di Bali, baik bekerja maupun pensiun.
Kapolda Bali, Irjen Pol Sutisna pun mengimbau kepada wisatawan Jepang maupun dari negara lain untuk waspada saat berlibur, dan memilih agen perjalanan yang memiliki sertifikasi keamanan resmi.
“Keselamatan itu terlepas dari pribadi masing-masing, namun saya menghimbau agar setiap tamu yang datang ke Bali agar menggunakan hotel yang bersertifikasi," kata dia. Pasalnya, kasus pembunuhan warga Jepang, tahun lalu, terjadi saat korban menginap di hotel yang tidak memiliki sertifikasi keamanan.
Dalam kesempatan itu, perwakilan Jepang juga memberikan apresiasi pada Polda Bali karena dinilai berhasil mengungkap kasus kejahatan yang menimpa warga Jepang. Penghargaan itu diberikan kepada Kepolisian Bali berupa sertifikat.
Laporan : Peni Widarti | Bali