VIVAnews - Tersangka teroris, Dulmatin ditembak dalam penggerebekan di Warnet Multiplus di Ruko Pamulang, Tangerang, Selasa 9 Maret 2010. Kata Polisi, Dulmatin terpaksa ditembak karena melawan dengan senjata revolver.
Menanggapi tewasnya Dulmatin, Imparsial menganggap seharusnya perlakuan polisi pada orang diduga teroris lebih manusiawi.
"Walaupun dia teroris dia tetap sama, memiliki hak asasi manusia. Dia memiliki hak untuk membuktikan di depan pengadilan, dia salah atau tidak," kata Managing Director Imparsial, Poengky Indarti, Kamis 11 Maret 2010.
Dikatakan dia, penembakan Dulmatin bukan peristiwa pertama. "Ini terjadi sejak penangkapan Dr Azahari," tambah dia.
Tak kurang sederet nama orang diduga teroris tersungkur diterjang peluru aparat. Selain Azahari, ada Noordin M Top, Ibrohim, Syaifuddih Zuhri, lalu Dulmatin.
"Ini memperlihatkan kontraterorisme yang dilakukan penegak hukum di Indonesia, penangkapan yang dilakukan tak proporsional, melampaui batas, dan menabrak norma HAM," tambah dia.
"Cara penangkapan yang dilakukan akan membuat teroris semakin brutal," tambah Pongky.
Terkait kematian Dulmatin, jelas dia, entah sengaja atau tidak, seharusnya polisi profesional dan mematuhi prosedur.
"Penangkapan [Dulmatin] dengan cara itu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan negatif -- jangan-jangan untuk membungkam orang yang diduga teroris itu," ujar dia.
Selain menewaskan Dulmatin, aparat kepolisian juga menembak dua pengawal Dulmatin, Ridwan dan Hasan Nur di Gang Asem, Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangerang.
***
Dulmatin adalah senior di kelompok Jamaah Islamiyah. Dia diyakini membantu para otak pelaku Bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang.
Dulmatin bukan orang sembarangan di Jamaah Islamiyah. Menurut Kepala Kepolisian, Jenderal Bambang Hendarso Danuri, kemampuan Dulmatin 'genius' dalam merangkai bahan peledak bahkan di atas Dr Azahari -- 'doktor bom'.
Pemerintah Amerika Serikat bahkan menawarkan uang sebesar US$ 10 juta atau setara Rp 93 miliar bagi siapa yang bisa memberikan informasi yang menggiringnya ke tahanan. Amerika Serikat mendeskripsikan Dulmatin sebagai 'spesialis perakit bom yang pernah menjalani pelatihan di kamp Al Qaeda di Afganistan.
Laporan: Djamila