VIVAnews - Lama tak terdengar, nama Dulmatin alias Joko Pitono, alias Noval, alias Joko Pitoyo, alias Abdul Matin, alias Pitono, alias Muktamar, Djoko-- gembong teroris yang tewas di Pamulang -- tiba-tiba kembali populer.
Padahal, sebelumnya Dulmatin kalah tenar dibanding Amrozi Cs, Noordin M Top, dan Dr Azahari, meski dia juga masuk daftar orang paling dicari di Filipina.
Di laman jejaring sosial, Facebook, puluhan facebooker menggunakan nama Dulmatin dalam berbagai versi, meski ada juga yang memang aslinya bernama 'Dulmatin'.
Salah satunya akun 'Dulmatin JokoPitono' yang memajang potret Albert Einstein dan mengaku lulusan Universitas Gadjah Mada angkatan 1997.
Ada lagi faceboker yang memasang nama 'Dulmatin' ditambah predikat, misalnya akun 'Dulmatin Mati', 'Dulmatin Teroris', 'Dulmatin Licin', 'Dulmatin Hebat', 'Dulmatin Junior', 'Dulmatin Tewas' dan 'Dulmatin Aje'. Rata-rata akun itu memajang wajah foto hitam putih Dulmatin.
Ada juga akun 'Dulmatin Jabrix' yang memasang gambar tokoh kartun Nobita. Sangat diragukan akun-akun itu asli milik Dulmatin.
***
Dulmatin adalah senior di kelompok Jamaah Islamiyah. Dia diyakini membantu para otak pelaku Bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang.
Dulmatin bukan orang sembarangan di Jamaah Islamiyah. Menurut Kepala Kepolisian, Jenderal Bambang Hendarso Danuri, kemampuan Dulmatin 'genius' dalam merangkai bahan peledak bahkan di atas Dr Azahari -- 'doktor bom'.
Pemerintah Amerika Serikat bahkan menawarkan uang sebesar US$ 10 juta atau setara Rp 93 miliar bagi siapa yang bisa memberikan informasi yang menggiringnya ke tahanan. Amerika Serikat mendeskripsikan Dulmatin sebagai 'spesialis perakit bom yang pernah menjalani pelatihan di kamp Al Qaeda di Afganistan'.
Petualang Dulmatin berakhir pada Selasa 9 Maret 2010 di Warnet Multiplus di Ruko Pamulang. Menurut polisi, Dulmatin terpaksa dilumpuhkan karena melawan dengan senjata revolver.