VIVAnews - Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Komisaris Jenderal Susno Duadji sempat menjadi sorotan media beberapa waktu lalu. Untuk menjawab segala kontroversi yang meliputinya, Susno pun menerbitkan buku berjudul 'Bukan Testimoni Susno.'
Di balik pembuatan buku itu, rupanya kebencian sempat menyeruak dari dalam diri sang penulis, Izhary Agusjaya Munzir. "Berawal rasa miris saat Susno datang ke sidang Antasari Azhar," kata Izhary mengenang awal mula pembuatan buku di Jakarta, Rabu 10 Maret 2010. "Ini orang kok nggak ada putih-putihnya."
Kemudian, kata dia, Susno dan dirinya berkomunikasi lewat telepon yang kemudian menyepakti untuk bertemu di rumah Susno. "Saya bilang, pak saya paling membenci bapak, menyebar kebencian," kata Izhary tanpa sungkan.
Dia ingat bagaimana wajah Susno saat itu yang dia samakan dengan wajah setan. "Tapi kemudian saya tanyakan apa yang sebenarnya terjadi."
Susno pun bercerita bagaimana dia ingin membersihkan nurani. "Saya berpikir, saya tak kenal Susno, kenapa saya harus benci?"
Kebencian pada dirinya, kata dia, mengikuti pendapat publik yang sudah terbentuk saat kasus-kasus melilit Susno. "Larut dalam putaran itu dan saya benci."
Niat menulis buku pun menguat. Namun, sempat ada keraguan apakah buku itu akan laku. "Memang ada yang mau beli?" perang batin Izhary.
Buku 'Bukan Testimoni Susno' diluncurkan hari ini di Toko Buku Gramedia Plaza Ekalokasari, Bogor, Jawa Barat, 25 Februari 2010. Buku itu berisi cerita tentang segala fakta di balik tudingan negatif kepada Susno.
Dalam buku itu diceritakan peristiwa dibalik pertemuan dengan tersangka korupsi Sistem Komunikasi Radio Terpadu, Anggoro Widjojo di Singapura. Cerita itu berlanjut pada cerita perseteruan Cicak Vs Buaya, di mana istilah itu pertama kali muncul dari dirinya.
Buku itu juga bercerita seputar kasus tentang pemeriksaan dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah.
Dalam buku itu, Susno mengaku tidak pernah terlibat sama sekali dalam dugaan rekayasa kasus dua pimpinan KPK. Namun, kata Susno, dia dituntut untuk mempertanggungjawabkannya. Akhirnya, Susno pun harus mundur dari jabatannya sebagai Kabareskrim.
Saat peluncuran, Susno mengaku dirinya hanya sebagai objek dalam buku itu. Mantan Kabareskrim itu pun memberikan apresiasi kepada penulisnya.