VIVAnews - Gembong teroris yang diyakini jadi salah satu otak Bom Bali I 2002, Dulmatin tewas dalam penggerebekan di Pamulang, Tangerang.
Menurut Kepala Kepolisian RI, Jenderal Bambang Hendarso Danuri, Dulmatin adalah tokoh sentral di Aceh.
Sebelum tewas, Dulmatin memberikan perintah pada pengikutnya yang masih hidup.
"Di beberapa daerah ada perintah untuk fa'i, dengan kekerasan. Ini sudah diperintahkan oleh Dulmatin untuk tersangka yang masih hidup," kata Kepala Polri, Jenderal Bambang Hendarso Danuri saat konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Rabu 10 Maret 2010.
Namun demikian, Bambang Hendarso enggan menjelaskan strategi yang digunakan oleh para teroris dalam melakukan aksinya. "Yang jelas ada pelatihan di sana (Aceh), ada strategi," kata dia.
Dulmatin dipastikan tewas dalam penggerebekan teroris di Pamulang, Jawa Barat, Selasa 9 Maret 2010.
Dulmatin pernah menjalani latihan di Filipina Selatan. Dia merupakan orang yang masuk dalam red notice pemerintah Filipina. Bahkan, pemerintah Amerika Serikat menjantikan akan memberikan uang sebesar US$ 10 juta kepada orang yang bisa menangkap Dulmatin
Dalam penggerebekan di Pamulang, anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror juga melumpuhkan dua pengawal Dulmatin, Ridwan dan Hasan Nur hingga tewas. Sementara dua pengawal lainnya, Bakti dan Saiful Siregar ditangkap hidup-hidup.
Dulmatin adalah ahli bom, penerus Dr Azahari -- yang tewas dalam penggerebekan di Malang. Namun, kemampuannya ternyata lebih mumpuni soal perakitan barang-barang peledak.
"Seperti yang kita ketahui terroris Dulmatin ini memiliki kemampuan melebihi dokter Azhari," kata Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri.