VIVAnews - Kepolisian RI membongkar aktivitas jaringan teroris di Nanggroe Aceh Darussalam dan Pamulang, Tangerang.
Penggerebekan dilakukan menjelang kedatangan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama ke Indonesia.
Dalam paparannya soal penggerebekan teroris, Kapolri mengatakan pelatihan teroris di Aceh terkait dengan di Pamulang. Mereka mempersiapkan penyerangan.
Polisi juga menemukan sejumlah benda di Pamulang. "Ada remote [alat pengendali] yang digunakan untuk bom jarak jauh. Tiga remote sudah siap semua dengan lima lembar tentang bom yang disiapkan," kata dia di Markas Besar Kepolisian, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Rabu 10 Maret 2010.
Apakah Obama yang jadi taget? Kapolri tak menjawab.
"Tidak ada sasaran tertentu, yang seperti itu tidak perlu kita jelaskan. Yang jelas ada rangkaian kegiatan yang dipersiapkan seperti itu," jawab Bambang Hendarso.
"Bukan sasaran yang penting, tapi apa yang mereka lakukan," tambah dia.
Dulmatin tak hanya diburu oleh aparat keamanan Indonesia. Filipina, Australia, dan Amerika Serikat juga memburu Dulmatin.
Amerika bahkan menjanjikan uang sebesar US$ 10 juta atau setara Rp 93 miliar rupiah bagi pihak yang berhasil menangkap Dulmatin.
Dulmatin adalah ahli bom, penerus Dr Azahari -- yang tewas dalam penggerebekan di Malang. Namun, kemampuannya ternyata lebih mumpuni soal perakitan barang-barang peledak.
"Seperti yang kita ketahui terroris Dulmatin ini memiliki kemampuan melebihi dokter Azhari," kata Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri.