Nasional

Nelayan Madura Kepung Kapal Santos

Tuntut ganti rugi atas kerusakan jaring dan rumpon nelayan akibat ekplorasi Santos

Senin, 8 Maret 2010, 15:55 WIB
Arfi Bambani Amri
Jembatan Suramadu (Eric Ireng)

SURABAYA POST - Para nelayan di pesisir pantai Camplong dan pulau Mandangin, Sampang, Madura, mengepung kapal milik perusahaan Santos (Madura Offshore) Pty Ltd di sekitar perairan Sumur Oyong yang sedang melakukan ekplorasi, Senin 8 Maret 2010.  Para nelayan ini membawa sekitar seratus lebih perahu.

Ratusan perahu nelayan dari Pulau Mandangin dan pesisir Pantai Camplong ini mulai bergerak menuju Kapal Neon Singapura, kapal yang biasa bekerja melalukan survei Santos Pty Ltd di wilayah tersebut. "Sejak kapal beroperasi banyak jaring dan jangkar nelayan yang rusak. Oleh sebab itu, perusahaan minyak Santos harus bertanggungjawab," kata koordinator lapangan aksi, Haji Hariri.

Sejumlah nelayan mengatakan, banyak jaring yang ditanam di tengah laut tiba-tiba hilang atau rusak diduga karena kapal yang tengah melakukan survei itu tidak melihat tanda-tanda adanya jaring nelayan.

Santos merupakan satu di antara 14 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang berhasil melampaui target produksi minyak di 2009, bahkan capaian Santos merupakan yang tertinggi. Santos, perusahaan asal Australia itu mampu menggenjot produksi 192,56 persen atau 2.388 barel per hari dari target 1.950 barel per hari.

Para nelayan menuntut ganti rugi atas kerusakan jaring dan rumpon nelayah akibat kegiatan ekplorasi yang dilakukan PT Santos di wilayah tersebut. "Sudah mencapai ratusan juta (rupiah) para nelayan mengalami kerugian akibat kegiatan ekplorasi," kata juru bicara nelayan Sampang, Yusak.

Kegiatan ekplorasi yang dilakukan PT Santos di pengeboran minyak bumi dan gas di Sumur Oyong Sampang itu, tanpa koordinasi dengan masyarakat dan nelayam setempat. Sehingga banyak jaring dan rumpon nelayan yang rusak.

Padahal, lanjut Yusak, seharusnya berbagai jenis kegiatan yang dilakukan berkoordinasi dengan para nelayan. "Yang terjadi selama ini tidak ada koordinasi sama sekali. Ini yang sangat kami sesalkan," katanya.

Laporan Ahmad Hairuddin



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ