VIVAnews - Mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Akbar Tandjung melakukan pertemuan dengan massa HMI di kantor sekretariat HMI Cabang Jakarta Pusat di Jalan Cilosari No 17, Cikini.
Usai pertemuan selama sekitar 30 menit, Akbar lalu keluar. "Aksi yang dilakukan adik-adik HMI adalah bentuk solidaritas atas kerusuhan yang menimpa kawan-kawan HMI di Makassar. Itu hal wajar kalau mereka lakukan aksi solidaritas," kata Akbar Tandjung, Jumat 5 Maret 2010 malam.
Akbar lalu minta massa menyingkir dari jalan. "Saya minta melakukan aksi di kantor HMI tidak di jalan, mengingat sudah malam, takut ada provokasi, sehingga menyebabkan bentrok dengan aparat," tambah Akbar.
Terkait kerusuhan Makassar, Akbar mengaku sudah menelepon Kapolri, Jenderal Bambang Hendarso Danuri agar masalah ini diselesaikan. "Pak JK [Jusuf Kalla] juga sudah menyampaikan seperti itu," tambah dia.
Kapolri diminta mengamankan dan tidak melakukan tindakan represif baik dari HMI maupun masyarakat dan polisi bisa saling menghormati.
"Kapolri juga harus jamin ketertiban dan menindak tegas anak buahnya yang melakukan pengrusakan," tambah dia.
Ketegangan mahasiswa, khususnya HMI dengan aparat polisi terjadi menyusul pecahnya bentrokan mahasiswa, polisi dan warga di Makassar Kamis, 4 Maret 2010.
Bentrokan tersebut dipicu oleh penyerangan Sekretariat HMI di Jalan Botolempangan, Makassar Rabu lalu, pasca aksi unjuk rasa kasus Century.
Penyerangan tersebut kemudian mengundang reaksi dari kader HMI Se-Makassar yang secara serentak turun kejalan melaksanakan aksi unjuk rasa.
Selain Jakarta, aksi solidaritas dan mengutuk aksi polisi juga terjadi si sejumlah kota di Indonesia.