VIVAnews - Detasemen Khusus 88 Polri telah menangkap 13 orang diduga teroris di Nangroe Aceh Darrussalam. Diantara 13 tersangka tersebut, terdapat pelatih para teroris yang pernah berlatih di luar negeri.
"Saya belum bisa menyampaikan inisialnya, untuk mengamankan jalannya pengejaran," kata Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Edward Aritonang di Jakarta, Selasa 2 Maret 2010.
Edward juga enggan menyebutkan kelompok Aceh ini terkait dalam jaringan teroris mana. "Ya, jaringannya nanti dulu. Anda bisa menganalisa dulu lah sementara," kata dia.
Namun demikian, dia mengatakan para teroris yang tertangkap berasal dari berbagai daerah di Indonesia. "Dari Sumatera Utara, Aceh, Jakarta, Riau, dan Jawa Tengah," kata dia.
Namun demikian, dia mengaku Polri belum bisa mengidentifikasi peranan dari masing-masing tersangka yang telah ditangkap tersebut. "Peran masing-masing nanti akan kami update lagi karena pemeriksaan masih berlangsung," kata dia.
Dalam penggerebekan ini, polisi juga menemukan beberapa barang bukti berupa senjata yang dimiliki oleh kelompok teroris ini. "Kita juga berhasil menyita 3 pucuk senjata api laras panjang dan lebih kurang 8 ribu butir peluru," kata dia.
"Ada dokumen, dan dari yang ditangkap tidak ada warga negara asing. Tapi dari dokumen itu menunjukan bahwa dia pernah mengikuti pelatihan di luar negeri."
Menurut Edward, polisi masih terus memburu beberapa orang yang telah ditetapkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Terkait dengan DPO, kata dia, polisi tidak hanya mengejar orang-orang yang terlibat dalam latihan para teroris saja. Namun, juga orang-orang yang memberi bantuan kepada kelompok teroris ini.
"Jadi bukan hanya jumlah yan ikut dalam pelatihan itu saja yang kita DPO-kan. Termasuk siapa support team-nya atau penghubungnya, mungkin logistiknya, dan sebagainya," kata dia.