VIVAnews - Mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal, Komisaris Jenderal Susno Duadji mengaku dimarahi jika tampil di televisi.
"Saya datang di stasiun televisi dimarahi, saya dianggap masih kecil tidak cakap ngomong di depan publik, ya kan saya harus patuhi," kata Susno kepada wartawan di Jakarta, Jumat 26 Februari 2010.
Ditambahkan Susno, penasihat Kapolri, Bachtiar Aly juga terpengaruh dengan kondisi saat itu.
Bachtiar, kata Susno, memberikan peringatan pada dirinya agar tidak bicara di media massa. "Hingga sampai akhirnya terpengaruh juga Pak Bachtiar Aly bilang, Susno Duadji karena memanggil wartawan, kemudian mendatangi TV, maka tidak sampai 1x24 jam akan dicopot," beber Susno.
Susno mengaku tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan Bachtiar
tersebut. Hanya saja dia mempertanyakan kenapa yang mengeluarkan pengumuman itu seorang Bachtiar, bukan Humas Polri yang kala itu dijabat oleh Inspektur Jenderal Nanan Soekarna.
"Tapi kenapa pakai Bahtiar Aly? Apakah humas, kerjaannya ini (Polri) sudah habis, kok pakai orang lain," kata dia.
"Saya suka rela mau diganti, kok pakai orang lain, pakai Bachtiar Aly. Kenapa yang lain-lain tidak pakai Bahtiar Aly, saya pakai Bachtiar. Tapi saya ambil positifnya, yang umumkan seorang profesor," kata Susno.
Sebelum telegram rahasia bernopol 618/XI/2009 tanggal 24 November 2009 yang juga berisi soal pencopotan Susno, muncul pernyataan dari Guru Besar Komunikasi Politik Universitas Indonesia, Bachtiar Aly.
Bachtiar menyatakan Bambang Hendarso Danuri akan mencopot Susno Duadji dari kursi Kabareskrim. Tindakan ini, menurut Penasihat Kapolri itu, akan diambil dalam dua kali 24 jam sejak pidato SBY.
"Saya pikir (pencopotan Susno) dalam satu hari ini, bisa sebelum jam-jam presiden mengumumkan kebijakan menyikapi rekomendasi Tim 8 nanti malam," ujar Bachtiar dalam perbincangan melalui telepon dengan VIVAnews, Senin 23 November 2009.
"Saya hitung tidak lebih dari 2 kali 24 jam," ujarnya.