VIVAnews -- Menjelang Muktamar NU yang akan memilih ketua umum PBNU di Makassar Maret mendatang, warga NU diminta mewaspadai penyusupan. Kecenderungan penyusupan kekutan politik eksternal ini disinyalir mulai terlihat.
"Hati-hati menjelang Muktamar NU, elit parpol akan bemain di Muktamar NU. Saya melihat kecenderungan itu muncul jelang Muktamar NU," kata tokoh NU yang juga Politisi Senior PKB Taufikurrachman Saleh, di Jakarta, Rabu 24 Februari 2010.
Taufik mengatakan banyak indikasi parpol berusaha menyusup. Misalnya banyak tokoh parpol yang sebelumnya tidak pernah datang ke kiai, tapi sekarang, karena mau Muktamar berusaha mempengaruhi kiai.
"Ini berbahaya, posisi NU memang sangat strategis, sehingga elit parpol berkepentingan dengan NU melalui muktamar," ujarnya.
Menurut Taufik, kalau ingin NU bersih dari kepentingan politik, maka Ketua Umum PBNU yang akan datang harus bersih dari pengaruh parpol. Jangan sampai NU diperalat oleh kepentingan jangka pendek elit partai yang sangat pragmatis.
"Untuk itu, Pengurus Wilayah (PW) dan Pengurus Cabang (PC) jangan sampai mudah dipengaruhi. Imunasinya harus kuat. Jangan sampai NU ke depan dikendalikan oleh Parpol. Posisi NU harus berada diatas parpol. Jangan sampai parpol yang memainkan NU. Ini untuk menjaga kemandirian NU pada masa mendatang," paparnya.
Dalam situasi seperti ini, lanjut dia kreteria Ketua Umum PBNU yang paling tepat, adalah dia yang punya kemandirian dan tidak mudah "diakali" oleh pihak yang ingin mengobok-obok NU.
Dengan demikian, NU akan menjadi kekuatan civil soceity yang bisa mengontrol partai dan kekuasaan di tengah demokrasi yang semu.
"Elit parpol sebaiknya memberikan data-data akurat tentang perkembangan berpolitikan di Indonesia, jangan malah bermain di arena Muktamar yang justru membuat muktamar tidak sehat," tandasnya.
Laporan: Dian Widyanarko