VIVAnews - Ahli konstruksi bangunan dari New Zealand Aid & Development Agency (NZAID) mengkhawatirkan konstruksi bangunan di Sumatera Barat yang kebanyakan tidak memenuhi standar. Ahli ini melakukan penelitian selama dua bulan setelah Padang dilanda gempa dahsyat berkekuatan 7,9 Skala Richter pada September 2009 lalu.
Sang ahli, David Hopkin mengatakan, di Padang sebetulnya banyak bangunan yang bagus dengan struktur bangunan yang khas dan elegan yang merupakan sebuah kebanggaan dalam arsitektural.
"Tetapi sepertinya amat penting meningkatkan kualitas struktural bangunan," ungkap David Hopkin dalam hasil penelitiannya yang dipublikasikan, Jumat, 19 Februari 2010.
Menurut David, ini menjadi tantangan untuk membangun kembali Sumbar pasca gempa dengan menerapkan konstruksi yang lebih baik.
Dari sejumah gedung pemerintah yang diteliti David, ia berkesimpulan, titik lemah dari kesatuan integritas bangunan terletak pada sambungan. Persoalan utama terletak pada sambungan beton yang tidak sesuai standar. Hal ini timbul karena pengadaan tulang besi sering dikurangi. "Hasilnya. Kesatuan atau integritas bangunan, khususnyasambungan jadi sangat bermasalah," jelas David.
Dalam penelitiannya David menelusuri kantor gubernur, gedung BPKP, Masjid Raya Ganting, Gedung Arsip, Rumah Dinas Ketua DPR, Balai Diklat Sosial, Kantor DPRD, dan Balai Kota Padang.
Dalam rekomendasinya, NZAID mengisyaratkan agar pembangunan gedung di kawasan rawan gempa perlu meningkatkan desain konseptual, meningkatkan kualitas secara radikal rincian dari kolom beton, mengamankan bagian bangunan terutama dinding bata.
"Perlu ada pendidikan khusus dan pelatihan, agar ikatan kuat rangka besi atau baja yang menjadi tulangan. Ini tidak bisa ditawar di daerah rawan gempa seperti Padang," katanya.
Ia juga menyoroti cara berhemat keliru saat membangun gedung pemerintahan. "Kreativitasnya berhemat harusnya jangan di struktur utama, tapi di desain," ujar David.
Laporan: Eri Naldi | Padang