VIVAnews - Dua orang mantan murid Anand Krishna melaporkan mantan gurunya ke polisi. Selain Tara Pradipta Laksmi, juga ada Sumidah yang mengaku menjadi korban dugaan pelecehan seksual.
Berbeda dengan Tara yang baru berusia 19 tahun, Sum sudah berkeluarga, bahkan memiliki seorang anak yang beranjak dewasa.
Sum mengaku menjadi anggota Anand Ashram pada tahun 1998, sebelum akhirnya menjadi terapis di Layurveda, di Jakarta dan juga Bali.
Kepada VIVAnews, Sum menceritakan awalnya dia sangat mencintai Sang Guru. Wajah Anand Krishna selalu terbayang. "Bahkan, ketika saya berhubungan dengan suami, saya membayangkan wajah Anand Krishna," kata dia.
Namun, rasa kagum dan juga cinta lama-lama luntur. Bersama Tara, dia bahkan berani 'menentang' mantan orang yang mereka puja.
Berikut petikan kesaksian Sum yang diungkapkan kepada VIVAnews.
Kapan Anda mulai kenal Anand Krishna?
Saya mulai kenal setelah ikut Ashram 1998 kemudian di training selama beberapa bulan dan ikut sanggarnya. Saya kemudian ditarik ke Layurveda [sanggar dan spa milik Anand Krishna].
Saya selalu membayangkan wajah Anand Krishna kapanpun dan sangat memujanya. Bahkan, ketika saya berhubungan dengan suami, saya membayangkan wajah Anand Krishna.
Saya membuat banyak sekali puisi-puisi untuk Anand Krishna dan saya sering bacakan dalam di forum belajar. Puisi itu benar-benar dari dalam hati saya.
Bagaimana hubungan Anda dengan Anand Krishna
Saya sering diminta memijit Anand Krishna. Lama-kelamaan saya diajak menginap di Layurveda. Biasanya Anand Krishna minta dipijit kapan saja, pagi, siang atau sore. Pernah waktu di Bali saya memijit Anand Krishna dari jam dua dini hari sampai jam lima pagi. Tapi saya melakukannya untuk menunjukkan bakti.
Ceritakan kejadian dugaan pelecehan seksual yang menimpa Anda.
Saya pernah dikirim ke Bali pada 2007, tapi hanya sebentar. Juli 2009 saya ke Bali lagi. Di sana, Anand Krishna juga sering minta pijit.
Belakangan, dua bulan terakhir September-Oktober 2009, Anand Krishna sering minta pijit di daerah-daerah sensitif, di atas kemaluan, di atas anus dan selangkangan.
Selama 10 tahun saya tidak merasakan apa-apa, tidak ada kejadian apa-apa ketika saya memijat. Tapi belakangan, Anand Krishna mulai menyentuh bagian-bagian sensitif tubuh saya. Seperti memegang daerah samping payudara dan menusuk-nusuk payudara saya saat saya memijatnya dalam keadaan telentang.
Tiap kali dipijat, Anand Krishna sering hanya menggunakan celana dalam atau kolor saat dipijat. Saat itu terjadi, batin saya mulai menolak, tapi secara fisik saya tidak bisa menolak.
Di Bali, tiap saya diminta memijat, kamar harus terkunci. Tiap kali dia minta dipijit selalu tanya apakah pintu sudah dikunci.
Berapa kali Anda merasa dilecehkan?
Saya merasakan perlakuan pelecehan dua-tiga kali. Tapi kejadian yang paling membuat saya syok yang terjadi pada 14 Oktober 2009. Saat itu Bapak menggerayangi saya.
Apakah sebelumnya pernah mendengar ada kejadian pelecehan seksual?
Ada beberapa yang keluar karena seks [diduga mengalami pelecehan seksual] tetapi kami anggap itu hanya fitnah.
Saya pernah berbagi dengan teman terapi di Layurvedha Bali yang mengaku dirinya hanya disuruh memijit [Anand Krishna] di bagian alat kelamin. Tapi waktu itu saya tak mempercayainya.
Sering juga saya melihat di siang hari asisten Anand Krishna, keluar dari lantai tiga, kamar Anand, ke kamar mandi lantai dua. Saat saya membersihkan kamar mandi saya melihat ada tisu basah yang baunya seperti mengandung air mani. Saya mulai curiga.
Bisa ceritakan bagaimana keadaan ruangan khusus Anand Krishna
Ruangannya luas dan banyak patung di dalamnya, dari berbagai ukuran. Ada satu patung yang paling besar, namanya Dewi Kali. Di kamarnya terdapat simbol semua agama. Di sana ada juga ranjang besar dari jati. Waktu baru dibeli, yang mengangkat kami bertiga, saya, Chandra [suami] dan Eni [terapis].
Terkait kasus Tara, pernahkan Anda mengetahui ada anak muda lain yang dibawa ke ruangan khusus Anand Krishna
Saya tahu Tara sering ke Layurveda. Awalnya dia ditemani Bu Maya [Maya Safira Muchtar] ke kamar Pak Anand. Lama-lama saya lihat Tara ke kamarnya sendiri. Disana dia sekitar satu-dua jam baru keluar kamar.
Saya juga pernah melihat Tara duduk diam mematung sampai keningnya disentuh Bu Maya. Kalau ingat saya jadi merinding [sambil menunjukan bulu kuduknya di tangan].
Kenapa akhirnya Anda memutuskan keluar?
Awalnya saya ketakutan karena Anand Krishna mulai memegang-megang saya lagi. Saya berpikir saya punya anak yang bisa masuk di situ. Saya tidak ingin anak saya mengalami pengalaman saya dan suami.
Suami Anda tahu peristiwa yang Anda alami
Ya. Suami awalnya tidak percaya tapi akhirnya mengerti dan syok juga. Karena waktu itu kami hanya berpikir mengabdi. Kami sama-sama bingung dan akhirnya saya kabur awal November 2009.
Bagaimana Anda bisa bersama-sama dengan Tara melaporkan kasus ini?
Setelah keluar kami bertemu lagi di Facebook. Saya kemudian berhubungan dan bertemu dengan ibunya. Saya bercerita apa yang saya lihat waktu Tara berada di Layurveda.
Setelah laporan Anda dilayangkan ke Komnas Perempuan. Bagaimana reaksi pihak Anand Krishna?
Ada teman-teman Ashram di Bali, yang sudah saya anggap saudara sendiri, mereka menyatakan saya memfitnah Anand Krishna.
Tapi saya tidak memfitnah atau sakit hati. Saya telah mengabdi dan meditasi selama 10 tahun, tapi hasilnya saya tidak mendapat apa-apa. Saya hanya kecewa kehilangan banyak waktu.
Anda masih mengagumi dan memuja Anand Krishna?
Tidak, sudah dua tahun kekaguman itu hilang.
Harapan Anda atas kasus ini?
Saya tidak ingin ada lagi korban. Saya tidak pernah membenci Anand Krishna dan Ashram, tapi jangan sampai ada korban lagi.
Baca juga bantahan pihak Anand Krishna:
1. Anand Krishna Kenal Si Pelapor
2. Anand Ashram: Sakit Hati Akibat Ditegur