VIVAnews - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) mengusulkan aliran gas dari Lapangan Kepodang ke PLTGU Tambak Lorok, Semarang, menggunakan skema hilir.
Dengan skema ini nantinya akan menjadi bagian dari ruas pipa transmisi Kalimantan-Jawa Tengah yang akan dibangun PT Bakrie and Brothers Tbk.
Anggota Komite BPH Migas Jugi Prajugio mengatakan, selain menghilangkan cost recovery, alternatif itu juga untuk mempercepat realisasi pembangunan infrastruktur pipa nasional.
"Pipa Kalimantan-Jawa merupakan pipa yang sangat vital untuk menghidupkan rencana pembangunan ruas pipa transmisi lainnya, yaitu Semarang-Cirebon dan Semarang-Gresik," kata dia dalam Rapat Dengar Pendapat BP Migas, PLN, PGN dengan Komisi VII DPR, di Jakarta, Kamis 11 Februari 2010.
Namun, menurut Jugi, ketiga ruas pipa itu belum banyak mengalami kemajuan, karena belum ada kepastian pasokan gas. Padahal, pipa yang awalnya diharapkan tuntas April 2010, ternyata sampai hari ini pasokan gas ketiganya ruas itu belum jelas.
Sejauh ini terjadi perbedaan pandangan antara BP Migas dan BPH Migas terkait penetapan skema transportasi gas dari Kepodang ke Tambak Lorok. Menurut BP Migas, ketika HoA ditandatangani transportasi gas ditetapkan dengan skema hulu, sehingga dikenakan cost recovery.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Pengendalian Operasi BP Migas Budi Indianto menuturkan, BP Migas, BPH Migas, dan Ditjen Migas rencananya akan bertemu untuk menetapkan skema transportasi gas dari Lapangan Kepodang ke PLTGU Tambak Lorok hari ini.
"Pasokan PLTGU Tambak Lorok telah ditetapkan akan berasal dari Lapangan Kepodang, Blok Muriah yang dikendalikan Petronas," kata dia.
Budi juga menjelaskan, seharusnya pasokan itu bisa dimulai pada 2012 hingga 2022, dengan tingkat produksi 116 mmscfd selama 5 tahun.
hadi.suprapto@vivanews.com