Nasional
Profesor Tersandung Plagiarisme

Unpar Bikin Software Anti Plagiat

Kasus Anak Agung Banyu Perwita jadi pelajaran berharga bagi Unpar.

Rabu, 10 Februari 2010, 13:06 WIB
Umi Kalsum, Ismoko Widjaya
Prof Anak Agung Banyu Perwita (facebook)

VIVAnews - Kasus plagiarisme yang melibatkan dosen Hubungan Internasional, Fakultas FISIP Universitas Khatolik Parahyangan, Profesor Anak Agung Banyu Perwita membuat Rektor Unpar Cecilia Lauw terpukul. Untuk menghindari kelakuan serupa, Unpar akan membuat software anti plagiat untuk kepentingan mahasiswanya.

"Yang sudah ada itu (software plagiarism check) hanya untuk program berbahasa Inggris. Saya meminta Teknik Informatika Unpar membuat satu software untuk berbahasa Indonesia," kata Cecilia kepada VIVAnews, Rabu 10 Februari 2010.

Dari pengalamannya, penggunaan software anti plagiat untuk program berbahasa Inggris cukup berhasil. "Ini bisa berguna untuk masyarakat, kita bisa memproduksinya," kata Cecil yang khawatir kasus plagiarisme Banyu akan membawa citra buruk bahwa Unpar adalah sarangnya plagiat.

"Karenanya kami mengimbau agar dosen meneliti karya-karya tulis mahasiswa. Mahasiswanya kami ingatkan jangan cepat-cepat menulis referensi," kata dia. Karena, imbuhnya, masih banyak orang yang belum paham bahwa menuliskan atribut seperti referensi sangat pelik sekali dan kasus plagiat yang melibatkan Banyu bukan satu-satunya.

Kasus Banyu yang artikelnya "RI As A New Middle Power?" pada 4 Februari 2010 ditarik dari harian The Jakarta Post merupakan pelajaran berharga bagi Unpar. Artikel itu sendiri dimuat pada 12 November 2009. "Ini pelajaran bahwa dalam menulis itu harus jujur," katanya.

• VIVAnews
Rating
Komentar
oncel
10/02/2010
software itu harusnya untuk otak dan mental... bukan untuk komputer...
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ