Nasional

Profesor Banyu Menjiplak Gara-gara 'Deadline'

Berdasarkan investigasi internal, totalnya ada empat tulisan.

Rabu, 10 Februari 2010, 12:25 WIB
Ismoko Widjaya
Prof Anak Agung Banyu Perwita (facebook)

VIVAnews - Profesor Anak Agung Banyu Perwita sudah mengaku kesalahannya karena menjiplak artikel. Berdasarkan investigasi internal kampus tempat Profesor Banyu mengajar, totalnya ada empat tulisan lain yang diduga juga menjiplak.

"Pak Banyu langsung mengaku tanggal 4 Februari, sore itu juga. Dia mengaku ada keteledoran," kata Rektor Universitas Katolik Parahyangan Cecilia Lauw Giok Swan dalam perbincangan dengan VIVAnews, Rabu 10 Februari 2010.

Menurut Cecilia, berangkat dari pengakuan itu akhirnya Banyu mengajukan pengunduran diri. Apa alasan Banyu melakukan penjiplakan?

"Dia bilang alasannya, karena menulis di koran itu deadline-nya cepat. Apalagi menurut Pak Banyu, kalau di Jakarta Post tulisannya tidak diseleksi lagi," ujar Rektor lulusan ITB ini.

Cecilia melanjutkan, akhirnya pihak kampus melakukan investigasi internal terhadap Profesor Banyu. Hasilnya, ada empat tulisan yang diduga plagiat.

Investigasi itu dipimpin langsung Ketua Jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan. "Ada empat tulisan yang diduga kuat menjiplak. Empat-empatnya itu dimuat di Jakarta Post," ujar Rektor yang juga mengajar mata kuliah struktur baja ini.

Banyu, dosen jurusan Hubungan Internasional, FISIP Unpar ini membuat The Jakarta Post pada Kamis 4 Februari 2010 menarik artikel Banyu yang yang berjudul "RI As A New Middle Power?" yang dimuat harian itu pada 12 November 2009.

The Jakarta Post menilai tulisan itu telah menjiplak sebuah jurnal ilmiah di Australia yang ditulis Carl Ungerer. Harian ini pun meminta maaf kepada pembaca dan penulis.

Banyu sendiri sebetulnya sarat dengan prestasi. Pada 12 januari 2008 lalu, ia dikukuhkan sebagai guru besar bidang hubungan internasional.

Saat itu ia menyampaikan pidato bertema Dinamika Keamanan Dalam Hubungan Internasional dan Implikasinya bagi Indonesia.  Banyu dikenal aktif menulis artikel di media massa.


ismoko.widjaya@vivanews.com

• VIVAnews
Rating
Komentar
Abdorrakhman Gintings
13/02/2010
Plagiat dan pemalsuan data adalah dosa besar dalam dunia akademik. Dalam dunia akademik, hukuman terhadap kedua dosa tersebut akan datang dari masyarakat iakademik dan diri sendiri. Saya sesalkan itu terjadi pada anda, padahal anda memiliki rekam jejak p
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ