Nasional

Profesor Muda yang Tersandung Plagiarisme

Kasus ini menggegerkan dunia pendidikan Indonesia.

Rabu, 10 Februari 2010, 11:35 WIB
Umi Kalsum
Prof Anak Agung Banyu Perwita (facebook)

VIVAnews - Anak Agung Banyu Perwita, profesor muda dari Universitas Khatolik Parahyangan membuat dunia pendidikan Indonesia tercengang. Ia diduga melakukan penjiplakan terkait artikelnya yang telah dimuat di harian nasional, The Jakarta Post.

Dosen jurusan Hubungan Internasional, FISIP Unpar ini membuat The Jakarta Post pada Kamis 4 Februari 2010 menarik artikel Banyu yang yang berjudul "RI As A New Middle Power?" yang dimuat harian itu pada 12 November 2009.

The Jakarta Post menilai tulisan itu telah menjiplak sebuah jurnal ilmiah di Australia yang ditulis Carl Ungerer. Harian ini pun meminta maaf kepada pembaca dan penulis.

Berita ini mengejutkan kalangan civitas akademika Unpar, tapi juga dunia pendidikan pada umumnya. Rektor Unpas Cecilia Lauw terkejut saat mengetahui kabar tersebut.

Cecilia seperti yang dikutip dari mediaparahyangan.com mengaku kaget dan terkejut dengan kabar tersebut. Ia mengetahui kabar itu Kamis sore setelah membuka akun Facebooknya.

Saat itu ia sempat memanggil Banyu dan Romo Tarpin, dokter muda bidang moral. Mereka bertiga  melakukan pembicaraan. Saat itu Banyu menyatakan menyesal dan mengaku salah. "Dia siap dihukum apapun yang saya berikan," kata Cecilia.

Cecil mengaku sangat marah dan kecewa dengan tindakan Banyu. "Tapi saya juga tetap sangat sayang Pak Banyu. Biar bagaiamanapun dia dua setengah tahun jadi Wakil Rektor. Meski begitu hukuman berat tetap harus diberikan kepada Pak Banyu," kata Cecil.

Banyu sendiri sebetulnya sarat dengan prestasi. Pada 12 januari 2008 lalu, ia dikukuhkan sebagai gurubesar bidang hubungan internasional. Saat itu ia menyampaikan pidato bertema Dinamika Keamanan Dalam Hubungan Internasional dan Implikasinya bagi Indonesia.  Banyu dikenal aktif menulis artikel di media massa.

Dari penelusuran di akun Facebook-nya, ia menyelesaikan S2 di Universitas Lancaster, Inggris dan S3 di Flinders University, Australia.

Pria kelahiran Jakarta pada 6 Februari 1967 ini  menyelesaikan pendidikan dasar, menengah pertama dan menengah atas di Pangudi Luhur, Jakarta.

Setamat SMA, dia menempuh pendidikan di jurusan Ilmu Hubungan Internasional Unpar. Dia pernah menjabat Ketua Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UNPAR dan menjabat Ketua I Senat Mahasiswa Pengkaji Masalah-Masalah Internasional (KSMPMI).

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ